Jumat, 10 Februari 2012

BERTUMBUH DALAM PENGAMPUNAN



KPR. 6:8-14, 7:54-60

  • Berbicara tentang pengampunan berarti juga berbicara tentang hubungan/relasi kita dengan Tuhan
  • Berbicara tentang pengampunan berarti juga berbicara tentang hubungan kita dengan sesama
  • Berbicara tentang pengampunan berarti juga berbicara tentang adanya dosa
  • Berbicara tentang pengampunan berarti juga berbicara tentang adanya masalah
  • Berbicara tentang pengampunan berarti juga berbicara tentang  adanya gesekan
  • Berbicara tentang pengampunan berarti juga berbicara tentang adanya perselisihan

(Mat.6:14-15, Lukas 23:34, Ef.4:32, Kol.2:13, I Yoh.1:9, 2:12, Markus 11:25-26)

1. Apa itu pengampunan?
    "Pengampunan": sikap hati yang rela menerima segala kekurangan orang lain dengan dorongan kasih Kristus.

2. Siapakah Stefanus dan seperti apa kepribadiannya?
Dalam bahasa Yunani, Stefanus mempunyai arti: “Mahkota”. Stefanus (0rang Yahudi Helenis) adalah satu dari 7 orang yang dipilih oleh para murid segera sesudah kebangkitan Yesus., untuk mengawasi pembagian bantuan kepada orang-orang miskin/janda-janda miskin  (orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani). Dikatakan bahwa Stefanus menonjol dari yang lain dalam hal iman, kasih, kuasa rohani dan hikmat (6:5,8,10)  

3. Tantangan yg dihadapi Stefanus:
a. dituduh menghujat Allah (6:9-14)
b. dituduh merobohkan Bait Suci, diftnah 6:11 (bnd.Mat.26:59-61)
c. dituduh mengubah taurat dan tradisi nenek moyang (6:13-14)
d. di adili dengan cara tidak adil (6:12), memakai saksi-saksi dusta
e. menyeret keluar dan melempari dengan batu sampai mati (7:57-60)

4. Apa yang menjadi dasar Stefanus sanggup mengampuni orang-orang yang berbuat jahat kepadanya, dengan suatu kalimat: “Tuhan janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka” (7:60): 1. Pengampunan Kristus.  Allah terlebih dahulu mengasihi kita/mengampuni kita, baru kita Bisa mengampuni  orang lain.

5. Dampak kematian Stefanus:
a. Pemberitaan Injil semakin meluas.(KPR.8:4)
b. Semakin mendorong orang-orang percaya untuk berani menyatakan Injil.
c. Tumbuh benih-benih iman baru – pertobatan Paulus (pasal 9)

6. Faktor-faktor yg mjd penghalang untuk sulit mengampuni:
   a. Menganggap diri selalu benar/ ego sentris
   b. Bersikap gengsi
   c. Memandang kesalahan orang lain terlalu besar, dan memandang kesalahan sendiri tidak masalah.

“Orang yg gampang sx minta maaf adalah orang yg suka membuat pelanggaran terhadap orang lain”

 7.   Bagaimana caranya kita dapat bertumbuh dalam pengampunan:
  • Belajar menerima dari segala kekurangan orang lain.
  • Dengan rela hati tunduk mengikuti setiap perubahan yang Allah kerjakan dalam hidup kita  sebagai suatu proses.
  • Menyadari bahwa diri kita bukanlah Allah tetapi manusia yang telah jatuh dalam dosa  alias belum sempurna adanya
  • Menyakini akan keberadaan Allah, bahwa Allah sanggup dan berkuasa untuk menolong memulihkan hidup kita.
  • Belajar terus memandang pada salib Kristus (Luk.23:34)
Kesimpulan:
  1. Ingatlah bahwa karya yang terbesar yg Allah kerjakan dalam dunia adalah “pengampunan” dengan bukti Allah memberikan anak-Nya sebagai pengampunan dosa-dosa kita.
  2. Tidak ada alasan apapun bagi kita yang mengatasnamakan sebagai murid Yesus /percaya kepada Tuhan Yesus untuk tidak bisa mengampuni orang yg berbuat jahat kepada kita.
  3. Camkan bahwa bagi orang yg tidak mau mengampuni orang lain, maka Tuhan pun tidak akan mengampuni kita.(Mat.6:15)
  1. Pengampunan hanya bisa dilakukan orang Kristen, jika orang itu hidup di dalam Kristus. Tidak ada yang lain.


KELUARGA BAHAGIA



Keluarga bahagia adalah konsep anugerah umum. Bahagia tidak bersifat mutlak tapi relatif. Orang Kristen seharusnya bicara tentang keluarga yang berpusatkan pada Kristus akan memiliki sukacita dan damai sejahtera.

1.        Kehadiran Tuhan Allah dalam keluarga kita.
  • Tuhan harus sebagai Tuhan: bukan suami, istri mertua, harta, orang lain
  • Tuhan yang mempersatukan
  • Tuhan yang memimpin agar keluarga dapat mencapai apa yang Tuhan kehendaki atas keluarga kita
  • Tuhan yang melindungi dari segala ancaman
  • Tuhan yang memberkati, artinya segala sesuatu tersedia pada Allah agar keluarga kita tetap menjadi berkat bagi dunia ini.

2.        Alkitab sebagai pedoman
  • Alkitab harus menjadi sentral kehidpan keluarga Kristen
  • Orangtua harus menjadi guru yang baik bagi anak-anaknya
  • Sumber pendidikan moral dan etika keluarga
  • Melindungi keluarga dari setiap ajaran dunia yang menyesatkan
  • Memberikan hikmat bagi keluarga
  • Pedang Roh

Banyak hal menyebabkan hilangnya kebahagiaan dalam rumah tangga:
Ø  Tidak menjalankan tugas dan fungsinya
Ø  Kekanak-kanakan
Ø  Emosi yang tidak terkendali
Ø  Tidak punya visi dan misi
Ø  Tidak punya perencanaan (family plan)
Ø  Masalah yang tidak diselesaikan secara baik dan benar
Ø  Keluarga jauh dari dan tidak punya intimasi dengan Tuhan.

Keluarga Bahagia (Ams.12:1-11)
Isteri Yang Cakap : disiplin, kuat, aktif, kaya, dan bijak

3. Berpusatkan kebenaran dan hidup dalam kebenaran. Aplikasinya :
   - Mau dikoreksi/ditegur (ay.1)
   - Berbuat baik (ay.2)
   - Adil (ay.5)
   - Jujur (ay.6)
   - Berakal budi (ay.8)
   - Berlagak mampu tapi tidak bisa apa-apa (ay.9)
   - Memperhatikan lingkungan hidup (ay.10)
   - Kerja keras/rajin (ay.11)


PENUTUP
  1. Kebahagiaan diperoleh dalam relasi yang benar dengan Tuhan Yesus sebagai pusat hidup tiap-tiap anggota keluarga
  2. Keluarga bahagia bukan berarti tanpa masalah, justru dalam kebersamaan mengatasi masalah itu kita menemukan kebahagiaan.
  3. Keluarga bahagia bukan diukur dari memiliki segala sesuatu secara fisik (uang, rumah, mobil, dsb).
  4. Keluarga bahagia berarti mensyukuri setiap hal yang dianugerhkan Tuhan pada kita.

PEMENANG SEJATI


I Kor.3:12-14, Filip 3:13-14

Hidup itu adalah pertandingan. William James mengatakan: “jika hidup ini bukanlah sebuah pertandingan yang sesungguhnya, yang di dalamnya segala sesuatu selalu di raih dengan sukses, hidup ini tidak lebih baik dari sebuah permainan drama pribadi dimana seseorang boleh menarik diri sesuka hati kapan saja. Tetapi hidup ini terasa seperti pertandingan, seakan-akan ada sesuatu yang liar di alam semesta yang dgn seluruh cita-cita dan keyakinan, perlu kita menangkan kembali.” Dalam nats yang kita pelajari, rasul Paulus mengilustrasikan kehidupan kekristenan itu dengan pertandingan atletik. Setiap orang percaya berada di arena pertandingan untuk berlari menuju garis finish. Hal inilah yang membedakannya dengan pertandingan duniawi. Dalam pertandigan duniawi yang bertanding hanya beberapa orang (menjadi peserta) yang lain sebagai penonton. Tetapi dalam pertandigan rohani setiap kita menjadi peserta pertandingan. (I Kor.9:25).

Setiap orang percaya ditentukan untuk menjadi pemenang, bahkan lebih dari pemenang (band. Roma.8:37). Istilah “lebih dari pemenag” menunjukkan bahwa setiap orang Kristen memilki kans untuk menjadi pemenag sejati. Pemenang sejati adalah Seorang juara yang mempertahankan kemenangannya secara kontinyu, bukan menjadi juara sementara. Bagaimana menjadi pemenang sejati?

1. Tidak cepat merasa puas (Filp.3:12a)
Dalam ayat 12,Paulus berkata: “bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya”. Inilah penyataan dan filsafat seorang pemenag sejati. Paulus tidak menarasa puas dengan prestasi rohani yang sudah dicapainya saat itu, walaupun kita tahu berbagai prestasi rohani sudah dicapainya saat itu. Sifat tidak merasa puas dengan prestasi rohani yang sudah diraih akhirnya mendorong Paulus untuk meningkatkan dan berkarya lebih lagi dalam mempertahankan kemenangan yang sudah dan yang akan diraihnya.

Banyak orang Kristen merasa puas dengan prsestasi rohaninya, kenapa demikian? Karena sering membandingkan prestasinya dengan orang lain. Sering diantara kita berkata: saya lebih baik dari si anu dalam pelayanan, saya lebih baiiik…..! saat kita membandingkan diri dengan orang lain maka akan muncul dalam diri kepuasan. Kenapa Paulus memiliki sifat tidak merasa puas? Karena tidak pernah membandingkan prestasi rohaninya dengan orang lain, tetapi membandingkannya dengan Kristus. Ketika kita membandingkan apa yang telah kita perbuat dengan apa yang Yesus perbuat atas kita, maka akan mendorong kita untuk lebih berkarya lagi.

2. Melupakan apa yg ada di belakang (13a)
           Seorang pelari haruslah menangggalkan ransel dibelakang punggungnya atau melupakan masa lalunya agar ia memiliki kecepatan berlari maksimal. Setiap org memiliki masa lalu. Untuk menjadi pemenang sejati maka kita harus berdamai dengan masa lalu kita. Kata “melupakan” dalam hal ini bukan berarti tidak mengingatnya, tetapi tidak lagi dipengaruhi atau dikuasai oleh masa lalu itu. Kalau hidup kita masih dipengaruhi atau di kuasai oleh masalalu kita, maka hal itu akan menghambat laju dinamika kerohanian kita. Perlu di ingat bahwa masa lalu tidak akan pernah menentukan masa depan kita. Tetapi masa depan kita di tentukan oleh masa Sekarang ini. Apa yang anda perbuat pada masa Sekarang ini menjadi penentu keberhasilan masa depan anda.

3. Mendisiplin diri (I Kor.9:27)
            Pendisiplinan diri sangat diperlukan dalam suatu perlombaan. Untuk bisa menjadi pemenang perlu pendisiplinan diri. Banyak orang menempuh jalan yang mudah dan instan untuk mencapai apa yang digapai, yang penting sampai pada tujuan sekalipun tanpa pendisiplinan diri. Rasul Paulus mengatakan bahwa tak seorangpun pernah mencapai sesuatu tanpa disiplin diri yang keras.

4. Mengarahkan diri pada tujuan (filp.3:13b, I Kor.9:26)
              Seorang pelari harus senantiasa memandang garis finish yang ada dihadapannya. Seorang pelari yang focus ke depan berarti ia tahu kemana tujuannya berlari. Ia tidak sekedar berlari, tetapi berlari pada tujuan (Bnd.1 Kor.9:26) untuk meraih hadiah atau mahkota yang kelak akan mjd miliknya. Ketika seorang pelari memandang serta menginginkan hadiah yang akan diraihnya, maka dalam dirinya akan muncul semangat/”andrenalin rohani” yang membantu ia untuk senantiasa menjadi pemenang sejati. Selamat bertanding

Kesimpulan:  
""  Seorang pemenang sejati adalah seorang juara yg mempertahankan kemenangannya secara terus-menerus ". 

MEMBERI PENILAIAN “SIKAP MENGHAKIMI"



(Yoh.7:14-22)

Dalam khotbahnya, Tuhan Yesus menyampaikan pengajaran tentang hal “Menghakimi Sesama”. Pengajaran ini muncul karena dilatarbelakangi oleh sikap orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yamg begitu beraninya memberikan penilain kepada diriNya, tanpa ada penyelidikan secara seksama.
Dalam hal ini, Tuhan Yesus memberikan contoh praktis kepada kita dalam bertingkah laku, yaitu: bagaimana sikap kita dalam memperlakukan orang lain.
 
1.    Apa yang saudara ketahui tentang istilah menghakimi?
Menghakimi (kata kerja) berasal dari kata "Hakim" (benda): "seseorang yang bertindak mengambil suatu keputusan dalam satu perkara berdasarkan suatu penilaian secara tepat dan benar (akurat). “Menghakimi” mempunyai konotasi negative, yaitu: "suatu tindakan secara radikal untuk memberikan penilain kepada kepada orang lain, tanpa adanya penyelidikan secara seksama."

2.  Mengapa kita tidak diperkenan Tuhan untuk menghakimi orang lain? dan ciri-ciri dari sikap menghakimi itu adalah: 
  • menuduh     
  • mencari kesalahan orang lain   
  • menjatuhkan      
  • merusak hidup orang lain.
Hal ini dilahirkan dari sikap hati yang dengki atau yang kita kenal dengan sikap iri hati.

3. Apakah benar bahwa Mat.7:1-6 mempunyai arti:
  • Bahwa Yesus meniadakan lembaga peradilan?
  • Bahwa orang Kristen tidak boleh mengkritik orang lain?

4. Langkah-langkah yang harus kita buat supaya kita tidak mudah menghakimi orang lain?
  • Belajar untuk mendengar & lambat utk berbicara & bertindak
  • Belajar menerima kelebihan  orang lain.
  • Menyadari bahwa diri kita bukanlah Allah tetapi manusia yg telah jatuh dalam dosa  alias belum sempurna adanya (Mat.7:1-3)
 Kesimpulan
"Kunang di seberang lautan anda ketahui, tetapi selumbar daun dimata anda tidak anda ketahui", untuk itu jangan menghakimi orang lain. 

Minggu, 05 Februari 2012

KUNCI MEMAHAMI ISLAM


Orang Barat mengalami kesulitan memahami Islam karena mereka tidak mengerti bahwa Islam merupakan suatu bentuk dari imperialisme budaya di mana agama dan budaya Arab abad ke-7 ditingkatkan statusnya menjadi hukum Illahi.

Rohani (Sacred) vs Duniawi (Sekuler)

Kesulitan dalam memahami Islam berakar pada konsep filosofi Barat tradisional mengenai dikotomi duniawi vs rohani. di Barat, organisasi keagamaan tidaklah diperlakukan sebagai penguasa yang mengatur semua sendi-sendi kehidupan duniawi. Bahkan sebaliknya, terdapat banyak segi-segi kehidupan sekuler di mana agama tidak mempunyai wewenang sama sekali.

Jadi ada bentuk pemisah antara gereja dan gereja. Misal: organisasi_organisasi keagamaan di Barat tidak dapat mengatur hukum-hukum politik. Di lain pihak, agama Islam tidak dapat diperlakukan sebagai keyakinan agama yang sifatnya pribadi/perorangan. Agama Islam bukan hanya sekedar yang kamu percaya dan selanjutnya kamu hidup seperti apayang kamu suka. Di negara-negara Islam, wacana sekukler tidaklah begitu exist.

Arab Abab Ke-7

Islam sesungguhnya merupakan pendewaan budaya Arab abad ke-7. Dalam arti yang mendalam, Islam lebih bernuansa budaya daripada agama. itulah sebabnya semua buku teks dan ensiklopedia mengenai Islam selalu diawali dengan konteks sejarah nabi Muhammad dan pentingnya budaya Arab abad ke-7.

Islam Merupakan Budaya Arab

Sekalipun orang Jawa mempunyai budaya tersendiri (adat Jawa), namun ketika orang tersebut memeluk agama Islam, maka terjadi suatu perubahan dalam semua budaya yang dulunya dianut. misal: mereka, berbusana Arab, mendengarkan musik-musik Arab, dan makan makanan Arab. Mereka bahkan mengucapkan doa syukur atas makanan tersebut dalam bahasa Arab, walaupun kadang kala mereka sendiri tidak mengerti apa yang mereka ucapkan. mereka telah meninggalkan budaya Jawa dan mengadopsi budaya Arab. saya tidak mengatakan bahwa budaya Arab itu jelek hanya semata-mata karena itu Arab, sebaliknya saya juga tidak mengatakan bahwa budaya Jawa itu jelek semata-mata itu Jawa. Semua budaya mempunyai sisi baik dan sisi buruknya. Dalam keyataannya, adalah merupakan hal yang keliru bagi orang-orang Barat masa lalu ketika beranggapan bahwa budaya mereka perlu di sodorkan kepada bangsa-bangsa di seluruh dunia. Bila demikian halnya, maka imperialisme buda Barat akan sama ofensifnya dengan imperialisme budaya Arab.

Bahkan seorang ahli dan cendikiawan Islam seperti Dr. Ali Dsahti, mantan Menteri Luar Negeri Iran, dalam bukunya yang berjudul: "23 Year: A Study of the prophetic Carier of Muhammad", dengan cermat mencatat betapa Islam harus dipahami dalam nuansa keberadaannya yang sangat erat menyatu dengan budaya Arab abad ke-7.

Agama di Barat

Di dunia Barat, agama dipandang sebagai sesuatu hal yang bersifat amat pribadi dan perorangan, bukan bersifat agama. Misalnya: Kekristenan tidak menuntut bahwa masyarakat masa kini untuk berbusana sesuai dengan aturan berbusana abad pertama. Mereka tidak perlu jenis-jenis hidangan yang dimakan Yesus. Jadi kekristenan merupakan supra budaya yang mengijinkan masyarakat untuk hidup, berpakaian, dan makan sesuai dengan budaya setempat.

tidak demikian dengan Islam. Ketika Islam menjadi agama yang dominan di suatu negara, maka seluruh budaya asli dari negara tersebut akan diubah dan digantikan oleh budaya Arab abad ke-7.


Mitos   Ismael

Salah satu contoh rasisme Arab adalah mitos yang menyatakan bahwa orang-orang Arab adalah keturunan Abraham melalui putranya yang bernama Ismael. Mc Clintock dan Strong dalam ensiklopedia mereka yang sangat terkenal mengenai agama memberi komentar sbb:  

"Pendapat umum bahwa orang-orang Arab baik yang bersal dari Selatan maupun Utara, adalah keturunan dari Ismail; Dalam (Kej.16:12)...seringkali ditafsirkan sebagai nubuatan bagi kaum Ismail menjadi bangsa Arab dengan segala kelebihannya terhadap bangsa-bangsa lain. Tetapi perkiraan ini didasarkan pada pemahaman yang salah atas asal usul pembentukan kaum Ibrani asli. Nubuatan ini justru digenapi dengan kenyataan yang dapat disaksikan dimana keturunan Ismail bermukim terpisah lebih kearah Timur dibandingkan dengan kantong pemukiman keturunan Abraham dengan pihak Sara maupun Keturah (istri Abraham yang terakhir)".

Dengan demikian pandangan yang menyatakan bahwa keturunan Ismail itu adalah orang-orang Arab yang bermukim di bagian Selatan adalah tidak berdasar sama sekali, dan kelihatannya pandangan tersebut datang dari tradisi yang disengaja yang diciptakan oleh kebanggan Arab yang menganggap bahwa mereka, seperti halnya dengan Yahudi, adalah berasal dari benih Abraham. Kebanggaan yang kosong inilah yang menodai Islam dan memalsukan seluruh sejarah Abraham dan anaknya Ismail, dimana panggung peristiwa yang sebenarnya terjadi di Palestina telah ditransfer ke Mekkah.
Kebanyakan buku-buku referensi yang berotoritas mengenai Islam menolak klaim bahwa bangsa Arab merupakan keturunan Abraham. Encyclopedia of Islam yang sangat bergengsi mengidentifikasikan bahwa rumpun orang-orang Arab justru berasal dari bangsa  yang bukan keturunan Abraham.

Bahkan Dictionary of Islam mempertanyakan pendapat bahwa bangsa Arab adalah keturunan Ismail. ("bagimana Ismail bisa menjadi bapak bangsa Arab...? Abraham bukan orang Arab. Hagar-ibunya Ismail bukan pula orang arab, melainkan budak dari Mesir. Malahan Hagar mencarikan seorang perempuan Mesir bagi Ismail sebagai istrinya. Jadi Ismail bukan orang Arab yang dapat menurunkan bangsa Arab. Apalagi dari Hadis (terjemahan HSB 1475) ternyata Ismail justru belajar bahasa Arab dari orang-orang Arab yang telah exist sebagai suku bangsa sebelum Ismail")

lanjut...........