Minggu, 08 Januari 2012

YANG TERBESAR DALAM KERAJAAN SORGA

YANG TERBESAR DALAM KERAJAAN SORGA
MARKUS 9:33-37



PENDAHULUAN

Setiap orang mempunyai suatu keinginan untuk menjadi yang terbesar di antara sesamanya. Alkitab menuliskan bahwa manusia mempunyai keinginan, kerinduan, kemauan, dan kehausan hingga menjadi suatu dorongan di dalam emosi kita sehingga kita mati-matian berusaha mencari dan mendapatkannya. Keinginan/kerinduan seperti itu adalah emosi yang normal. Setiap orang mempunyai suatu keinginan yang menjadi fungsi kemauannya. Keinginan-keinginan itulah yang mengakibatkan manusia dapat maju. Tanpa ada keinginan, manusia akan puas oleh keadaan yg ada sehingga ia tidak dapat melepaskan diri dari keterbatasan dan kelemahan yang selama ini mengikat dia. Kalau tidak ada keinginan, tidak mungkin manusia mengalami perubahan hidup. Begitu banyak orang puas dengan keadaan diri, sehingga dia tidak pernah mencapai hasil yang terbaik dalam hidupnya. Kepuasan memang diperlukan. Tetapi dalam hal-hal tertentu kita tidak boleh puas.  Dalam hal-hal tertentu kita harus cepat puas, tetapi dalam hal lain kita tidak boleh cepat puas. Ini keseimbangan mengatur diri supaya keinginan kita tidak meluap keluar jalur. Kemampuan untuk menata keseimbangan ini merupakan tanda kematangan kerohanian seseorang.

Latar Belakang Masalah:
  • Murid-murid terobsesi melihat tanda-tanda dan  mujizat yang dibuat oleh Tuhan Yesus.
  • Murid-murid bangga dan merasa nyaman hidup melayani bersama Tuhan, ketika mereka melihat kemuliaan Tuhan bersama Musa & Elia di atas gunung.
  • Sehingga muncul pertanyaan: “Siapa yg terbesar diantara kita…?

Reaksi dari murid-murid tentang pernyataan “siapa yang terbesar” di antara mereka, mengakibatkan pertengkaran di antara murid-murid………
  1. Andreas: “saya kan murid yang pertama kali dipanggil Yesus. Pasti saya yang lebih besa”r (Yoh.1:40)
  2. Petrus: “saya kan ketua rombongan, pasti saya yg lebih besar dari semuanya..!”
  3. Yohanes dan Yakubus: “kami kan murid yang paling dikasihi Tuhan” (Yoh.21:20)
  4. Filipus: “saya kan langsung diajak Tuhan untuk ikut dengan-Nya”.
  5. Yudas Iskariot: “saya kan dipercaya oleh Tuhan pegang Kas pelayanan-jadi bendahara” (Yoh.13:29)
.
Keinginan orang Kristen menurut Alkitab dibagai menjadi 2, yaitu:
  1. Keinginan menurut kehendak Allah - Keinginan yang semacam ini mempunyai kaitan dengan nilai-nilai kekekalan. Contoh: berkeinginan terus untuk mencari kerajaan Allah & kebenaranNya (Mat.6:33), keinginan untuk berkelakuan baik, menginginkan pelayanan yang baik dll.

  1. Keinginan menurut kehendak sendiri (Yer.45:5) - Keinginan-keinginan semacam ini hanya bertujuan untuk memuaskan diri sendiri, dan keinginan seperti ini hanya berelasi dengan hal-hal yang bersifat sementara. Keinginan untuk menjadi besar di antara sesama dgn motivasi kepuasan diri menyebabkan diri manusia justru tidak akan pernah mengenal dirinya sendiri dan juga tidak akan pernah bisa mengenal Allah dengan benar. Inilah keinginan yg tidak dikehendaki Allah.

Banyak manusia membangun kebesaran hidup dengan caranya sendiri:
  1. Menjaga kewibawaan hidup supaya terlihat berwibawa.
  2. Tidak mau bergaul dengan orang kecil.(menjaga jarak) – menganggap kehormatannya nanti bisa berkurang jika berhubungan dengan orang-orang bawahan.
  3. Mendirikan monument/patung tentang dirinya.
  4. Mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya buat keluarganya.
  5. Mengiklankan dirinya di media masa, biar namanya dikenal banyak orang (partai politik)
  6. Bertindak keras terhadap sesamanya, biar ditakuti dengan cara badan ditato dll
  7. Berusaha menguasai orang lain melalui jabatannya.
  8. Mengejar dan memamerkan kelebihan materi. Pendeta yang naik mobil tarifnya lebih besar jika dibanding pendeta yang jalan kaki/naik motor.
Jadi :
  1. Kehormatan tanpa Kristus, kehormatan itu akan menjadi bencana bagi dirinya (Haman vs Mordekhai)
  2. Kejayaan tanpa Kristus, justru meruntuhkan kejayaan tsb (Babel-runtuh)
  3. Kekuasaan tanpa Kristus, justru akan membinasakan dirinya (Firaun membangun pyramid, tetapi dirinya mati tenggelam)
  4. Kebesaran tanpa Kristus, melindas hidupnya (Alm Presiden Suharto disebut bapak Pembangunan-setelah mati di hujat banyak orang)
  5. Kebanggaan/ketenaran tanpa Kristus, menghancurkan martabatnya (Hittler)
Ciri-ciri orang yang ambisius:
  1. Suka memaksa
  2. Suka mengatur
  3. Fokus pada kepentingan pribadi

Ciri sifat anak kecil (menekankan karakter, bukan siapa nama orangnya):
  1. Jujur dalam berkata/ berkata benar = antara hati & perkataan sama atau sejalan.
  2. Mudah untuk percaya (menerima) dan apa yang dipercaya, ia pegang teguh. Contoh hubungna antara murid dengan guru.
  3. Rendah hati - Orang rendah hati adalah orang yang tahu bagaimana caranya menyelesaikan masalah. Sedangkan orang sombong adalah orang yang tahu bagaimana caranya untuk mencari masalah. contoh: habis berkelahi mereka bermain kembali dan tidak menyimpan dendam satu sama lain
  1. Sukacita/ceria-tidak pernah memikirkan hal yang tinggi-tinggi. dapat menikmati hidup.
  2. Bergantung penuh kepada orang tua
  3. Taat: hidup dalam/dibawa kuasa orang tua. Contoh: selalu bangga akan orang tuanya 
Banyak contoh, orang-orang yang namanya menjadi besar karena menerapkan prinsip Alkitab, yaitu "menjadi pelayan bagi sesamanya". Misal:

1. Ibu Teresa: melayani orang-orang marginal di India. Saat dia meninggal dunia, banyak orang mengenal kebaikannya, bahkan dia mendapatkan nobel dunia.
2. William Kerry: meninggalkan negaranya, dan mengabdikan dirinya bersama dengan keluarganya untuk melayani orang-orang di India. Melalui pelayanannya, banyak orang-orang India yang bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus.
3. Nomensen: dari Belanda, pergi ke tanah Batak untuk menginjili orang-orang Batak. ketika ia meninggal dunia di tanah Batak, namanya menjadi besar dan dikenang banyak orang.
4. Dan masih banyak contoh yang lainnya.


Kesimpulan
Jika kita mau menjadi yang terbesar di antara yang lain, hendaklah kita belajar seperti Tuhan Yesus, mau melayani sesama.

BAGAIMANA YA…MENEMUKAN TULANG RUSUKKU…?

BAGAIMANA YA…MENEMUKAN Tulang rusukKU…?


Kata kiasan ‘tulang rusuk’ pasti diambil dari Kej 2:21-25 - “(21) Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. (22) Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangunNyalah seorang perempuan, lalu dibawaNya kepada manusia itu. (23) Lalu berkatalah manusia itu: ‘Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.’ (24) Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. (25) Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu”.

Mungkin istilah ‘tulang rusuk’ itu bisa diartikan ‘jodoh yang dari Tuhan’ atau ‘jodoh yang sesuai kehendak Tuhan’. Tetapi kehendak yang mana?

1)   Kalau ‘kehendak’ dalam arti ‘rencana kekal dari Allah’, maka saya yakin bahwa setiap orang pasti menikahi jodohnya, karena rencana Allah tidak mungkin tidak terjadi.
Ayub 42:1-2 - “(1) Maka jawab Ayub kepada TUHAN: ‘Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu yang gagal”.

2)   Kalau ‘kehendak’ dalam arti ‘keinginan Tuhan’ atau ‘yang menyenangkan Tuhan’, maka ini belum tentu terjadi, karena manusia sering melakukan apa yang tidak sesuai dengan keinginan Tuhan, atau apa yang tidak menyenangkan Tuhan.

Yang dalam arti pertama bukan urusan kita, karena kita tidak tahu rencana Allah bagi kita (Ul 29:29). Kita harus mencari jodoh yang sesuai dengan kehendak Tuhan, dalam arti yang kedua.

Hal-hal yang harus dipikirkan dan ditaati dalam mencari jodoh yang sesuai kehendak Tuhan:

a)   Ia harus orang yang seiman dengan kita.
2Kor 6:14 - “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?”.

Dalam Perjanjian Lama bangsa Israel dilarang menikah dengan orang-orang Kanaan.
Ul 7:1-5 - “(1) ‘Apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau ke dalam negeri, ke mana engkau masuk untuk mendudukinya, dan Ia telah menghalau banyak bangsa dari depanmu, yakni orang Het, orang Girgasi, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus, tujuh bangsa, yang lebih banyak dan lebih kuat dari padamu, (2) dan TUHAN, Allahmu, telah menyerahkan mereka kepadamu, sehingga engkau memukul mereka kalah, maka haruslah kamu menumpas mereka sama sekali. Janganlah engkau mengadakan perjanjian dengan mereka dan janganlah engkau mengasihani mereka. (3) Janganlah juga engkau kawin-mengawin dengan mereka: anakmu perempuan janganlah kauberikan kepada anak laki-laki mereka, ataupun anak perempuan mereka jangan kauambil bagi anakmu laki-laki; (4) sebab mereka akan membuat anakmu laki-laki menyimpang dari padaKu, sehingga mereka beribadah kepada allah lain. Maka murka TUHAN akan bangkit terhadap kamu dan Ia akan memunahkan engkau dengan segera. (5) Tetapi beginilah kamu lakukan terhadap mereka: mezbah-mezbah mereka haruslah kamu robohkan, tugu-tugu berhala mereka kamu remukkan, tiang-tiang berhala mereka kamu hancurkan dan patung-patung mereka kamu bakar habis”.

Jelas bahwa sebetulnya larangan ini bukan berhubungan dengan kebangsaan, tetapi dengan iman / kepercayaan.

Ada pendeta yang mengijinkan pernikahan dengan orang yang berbeda iman berdasarkan 1Kor 7:12-13 - “(12) Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan: kalau ada seorang saudara beristerikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia. (13) Dan kalau ada seorang isteri bersuamikan seorang yang tidak beriman dan laki-laki itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah ia menceraikan laki-laki itu”.
Ini salah, karena kasus ini bukan kasus dari orang beriman yang mau menikah dengan orang kafir. Ini adalah kasus 2 orang kafir yang telah menikah, lalu salah satu dari mereka menjadi Kristen. Selama yang kafir tetap mau hidup dalam pernikahan dengan orang Kristen itu, maka orang Kristen itu tidak boleh menceraikannya.

Bdk. 1Kor 7:39 - “Isteri terikat selama suaminya hidup. Kalau suaminya telah meninggal, ia bebas untuk kawin dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang percaya.
Tidak mungkin Paulus mengijinkan pernikahan orang-orang yang berbeda iman dalam 1Kor 7:12-13, lalu menekankan keharusan iman yang sama pada 1Kor 7:39!

Penerapan:
Perhatikan beberapa kutipan di bawah ini sebagai penerapan.

Melody Green: “Artikel ini saya tujukan khusus untuk gadis-gadis Kristen, sebab dari pengalaman-pengalaman konseling, saya melihat wanitalah yang lebih sering melakukan kesalahan ini” - ‘Mencari pasangan hidup: Bolehkah saudara berpasangan dengan orang yang tidak percaya?, hal 1.

Melody Green: “Saya kira umumnya pernikahan didahului dengan berpacaran. Banyak orang Kristen yang terkecoh pada waktu taraf ini. Mereka rasa, tak salah untuk bergaul dengan orang-orang tak percaya asalkan ‘tak terlalu serius’. Mungkin mereka pikir, ‘Satu atau dua kali kencan tak akan menyakiti seorang pun. Disamping itu mungkin saya dapat membimbingnya kepada Tuhan. Saya sekedar bersenang-senang saja, bila sudah saatnya nanti saya pasti menikah dengan seorang Kristen’. Lalu, lihat dan perhatikan, tahu-tahu mereka telah ‘terperangkap cinta’, dan mereka berusaha mati-matian untuk membenarkan hubungan (pernikahan) yang akan dilakukan terhadap diri sendiri, terhadap teman-teman mereka, dan terhadap Tuhan. Saya berkata - orang Kristen yang cukup tolol untuk berkencan dengan orang yang tak percaya akan cukup tolol pula untuk menikahinya- ‘Mencari pasangan hidup: Bolehkah saudara berpasangan dengan orang yang tidak percaya?, hal 3-4.

Melody Green: “Menikah adalah keputusan terpenting dan terbesar yang Anda buat setelah kebutusan untuk mengikuti Yesus” - ‘Mencari pasangan hidup: Bolehkah saudara berpasangan dengan orang yang tidak percaya?, hal 4.

Melody Green: “pernikahan didahului dengan ‘kencan pertama’. Salah satu problem utama ialah banyak orang Kristen yang bersikap menyepelekan hal ini. ... Meskipun kadang-kadang tak berlanjut, tapi ingatlah, tiap kencan memiliki potensi untuk menjadi hubungan seumur hidup. Meluangkan waktu dengan orang yang salah berarti membuka diri untuk terlibat secara emosional menuju suatu titik dimana sulit untuk mundur maupun maju. Sekali saja Anda memberikan hati dan perasaan Anda pada seseorang, Anda akan terkejut bila menyadari betapa sulit untuk melepaskannya - meskipun Anda tahu harus melepaskannya” - ‘Mencari pasangan hidup: Bolehkah saudara berpasangan dengan orang yang tidak percaya?, hal 4-5.

Melody Green: “Banyak gadis yang tak menyadari, jika mereka tak cukup kuat menahan godaan untuk menikah dengan orang tak percaya, pasti mereka tak cukup kuat pula untuk memenangkan suaminya bagi Tuhan” - ‘Mencari pasangan hidup: Bolehkah saudara berpasangan dengan orang yang tidak percaya?, hal 15.

Melody Green: “Acap kali untuk menikahi seorang gadis Kristen, ada pemuda yang ‘bertobat’, sebab ia sadar harus melakukannya demi gadisnya. ... Saya tak pernah mempercayai ‘pertobatan’ semacam itu dan saya selalu mengatakan pada gadis-gadis yang konseling dengan saya, agar membiarkan pacar mereka membuktikan terlebih dahulu pertobatannya. ... Masalahnya ialah, banyak gadis yang tak sabar untuk menguji buah-buah si pemuda. Segera setelah melihat ‘sang jodoh’ mengucapkan doa penyesalan, sang gadis mulai menyiapkan pakaian pengantinnya” - ‘Mencari pasangan hidup: Bolehkah saudara berpasangan dengan orang yang tidak percaya?, hal 15-16.

b)  Ia haruslah orang yang cocok dengan kita, orang dengan siapa kita bisa ‘enjoy being together’ (= menikmati kebersamaan).

Jangan karena ia sudah memenuhi syarat pertama di atas, yaitu ia adalah orang Kristen, maka saudara cepat-cepat mau menikahinya. Dengan sesama saudara seimanpun, kalau tak cocok, maka akan terjadi bencana.

Harus ada:
1.   Kecocokan sifat dan kesenangan / hobby.
2.   Kecocokan dalam berbicara.
Sedemikian rupa sehingga saudara menikmati kebersamaan dengan dia. Kalau ini tidak ada, bayangkan bagaimana saudara bisa bersama-sama terus selama puluhan tahun dengan orang yang tidak cocok.

1.   Kecocokan sifat dan kesenangan / hobby.

Tak berarti sifatnya harus sama. Sifat yang sama kadang-kadang bagus, misalnya kalau sama-sama sabar atau sama-sama menyenangi nonton. Tetapi bagaimana kalau sama-sama keras dan ngamukan?

Sifat yang kontras kadang-kadang bisa bagus karena yang satu akan mengimbangi yang lain. Misalnya: yang satu sabar, yang lain berangasan. Maka yang sabar bisa menasehati / menahan yang berangasan pada saat ia marah.

Tetapi sifat dan kesenangan yang sangat / terlalu kontras kadang-kadang bisa membahayakan dan harus diwaspadai, misalnya:
·        kalau satu sangat royal, yang lain sangat pelit.
·        satu senang keluyuran, yang satunya senang di rumah.
·        satu senang film drama, yang lain senang film action.
·        satu gila olah raga, yang lain sama sekali tidak senang olah raga.
·        satu halus / lembut sekali, yang lain sangat kasar.
·        satu kalau bicara blak-blakan, yang lain selalu mbulet dan bertele-tele.
·        yang satu hot, yang lain frigid. Harus ada kecocokan sexual

2.   Kecocokan dalam berbicara.

Saya pernah naksir seorang gadis, karena melihat penampilan lahiriahnya. Pada waktu saya mendekati, dan mulai apel ke rumahnya, hanya dalam 3-4 x pertemuan, saya merasa bahwa saya tidak cocok berbicara dengan dia, dan saya lalu menjauhi dia.

Syarat kedua ini menyebabkan seseorang tidak mungkin menikahi orang lain cepat-cepat. Cepat-cepat menikah, atau karena usia yang sudah tinggi, atau karena didesak orang tua, atau karena alasan apapun, menurut saya merupakan sesuatu yang salah dan membahayakan. Butuh waktu sedikitnya 1-2 tahun pacaran, dan itupun tak menjamin kita mengenal dengan baik pasangan kita.

Ada orang-orang yang meneruskan pacaran sekalipun tak memenuhi syarat kedua ini. Akibatnya mereka lalu bertemu hanya semingu sekali, dengan alasan, supaya tidak bosan. Ini bodoh, karena kalau menikah nanti saudara akan bertemu dengan pasangan hidup saudara setiap hari. Kalau sekarang saja tidak kangen, dan bahkan bosan, bagaimana nanti dalam pernikahan.

c)   Harus ada saling cinta.
Ef 5:25 - “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diriNya baginya”.

Tit 2:3-4 - “(3) Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik (4) dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya”.

Kidung 4:1-15, khususnya ay 9!
Kidung 4:9 - “Engkau mendebarkan hatiku, dinda, pengantinku, engkau mendebarkan hati dengan satu kejapan mata, dengan seuntai kalung dari perhiasan lehermu”.
Adanya rasa berdebar-debar dsb menunjukkan bahwa ini adalah cinta asmara.
Kalau point c dan b tadi ada, maka pasti ada rasa kangen kalau tidak bertemu sang pacar. Bdk. 

Kidung 3:1-4 - “(1) Di atas ranjangku pada malam hari kucari jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia. (2) Aku hendak bangun dan berkeliling di kota; di jalan-jalan dan di lapangan-lapangan kucari dia, jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia. (3) Aku ditemui peronda-peronda kota. ‘Apakah kamu melihat jantung hatiku?’ (4) Baru saja aku meninggalkan mereka, kutemui jantung hatiku; kupegang dan tak kulepaskan dia, sampai kubawa dia ke rumah ibuku, ke kamar orang yang melahirkan aku”.

Menurut saya rasa kangen seperti ini adalah salah satu tolok ukur. Kalau rasa kangen itu tak ada, jangan menikah dengan orang tersebut.

Kesimpulan
Sekalipun saudara mendapatkan orang yang memenuhi semua ini, jangan berharap bahwa kehidupan pernikahan saudara nanti akan mulus dan lancar. Selalu bisa muncul problem, bahkan yang besar, pada saat kita mengikuti Tuhan, juga dalam pernikahan.
-AMIN-

Jumat, 06 Januari 2012

KETURUNAN ORANG BERIMAN


Kitab Kejadian 25:27-34

Ishak merupakan  anak dari Abraham, dan dia adalah anak perjanjian. Ishak dididik dalam lingkungan keluarga yang percaya kepada Allah. Kemudian dia meneruskan iman percayanya kepada keluarganya yang telah dibangunnya. Ketika ishak berumur 60 tahun, barulah ia dikarunai dua orang anak kembar, yaitu Esau dan Yakub (ayat24). Perkembangan kedua anak ini mendapatkan perhatian dari kedua orang tua mereka. Ishak lebih sayang kepada Esau, sedangkan Ribka lebih sayang kepada Yakub. Jadi kedua anak tersebut mendapatkan pendidikan dan perhatian yang berbeda. Esau mendapatkan pendidikan dari Ayahnya, sedangkan Yakub mendapatkan pendidikan dari ibunya. Sehingga pola pendidikan yang berbeda membuat pengaruh bagi perkembangan fisik, mental, intelektual serta perkembangan rohani mereka.  Perbedaan dari pola perkembangan baik mental - sosial, intelektual, fisik dan rohani terlihat pada ayat 27-34, yaitu:
  1. Esau adalah seorang yang mempunyai tipe Sanguin.
“…pandai berburu, suka tinggal dipadang …”(ayat 27)
    1. Perkembangan sosial; Esau lebih terbuka kepada orang lain, dia lebih mudah bersoaialisasi dengan lingkungan sekelilingnya.
    2. Perkembangan intelektual; Esau lebih pandai dan kreatif jika dibanding dengan Yakub. Ia memiliki wawasan yang cukup luas. Tetapi, sayang ia orang yang  cepat bertindak tetapi kurang mempertimbangkan apa yang menjadi keputusannya (grusa-grusu: bahasa jawa) ayat 32.
    3. Perkembangan mental; kurang mengontrol diri, tetapi pemberani.
    4. Perkembangan fisik; secara fisik, Esau lebih kuat jika dibanding dengan Yakub. Sebab ia adalah seorang pekerja keras. Ia banyak beraktifitas di luar rumah….Ayat 27 “..ia lebih suka tinggal dipadang”.  
    5. Perkembangan rohani; secara kehidupan rohani, perkembangannya agak lambat (labil). Hal ini terlihat dari ayat 34:”…..Esau memandang ringan hak kesulungannya….”

  1. Yakub adalah seorang yang mempunyai tipe Flegmatik
“………seorang yang tenang, dan suka tinggal dirumah …“(ayat 27)
    1. Perkembangan sosial; Yakub adalah anak yang tertutup, karena kurang bersosialisasi dengan lingkungan di luar. Ia lebih senang berdiam diri di rumah (ayat 27)
    2. Perkembangan intelektual; Yakub anak yang pendiam tetapi cerdik. (ayat 31, 33)
    3. Perkembangan mental; bisa mengontrol diri/tenang dalam menghadapi masalah (ayat 27), tetapi  ia minder/penakut.
    4. Perkembangan fisik; secara fisik, Yakub lemah jika dibanding dengan Esau. Sebab ia kurang beraktivitas. Ia banyak beraktifitas di rumah….Ayat 27 “..ia lebih suka tinggal di rumah”.
    5. Perkembangan rohani; secara kehidupan rohani, perkembangannya cukup baik. Hal ini terbukti ketika ia melakukan kesalahan terhadap Esau, ia datang minta maaf  dengan kerendahan hati. (kej.33)

Kesimpulan:
Pendidikan dalam keluarga kristen sangat penting untuk diterapkan. Terlebih pendidikan kerohanian anak. Mengapa demikian? Karena dalam pendidikan ada relasi dan komunikasi antara orang tua dan anak, yang  80% membentuk pola kehidupan anak. Untuk itu, marilah kita belajar menerima keberadaan anak/ orang tua kita tanpa membanding-bandingkan dengan yang lain, karena salib Kristus sudah, sedang, dan pasti memampukan kita hidup dalam keluarga yang “Sehat“.AMIN

KETAATAN YANG  MUTLAK

Lukas. 5:1-11
Sebelum lebih jauh penulis memaparkan secara praktis inti dari Injil Lukas 5:1-11, terlebih dahulu penulis memberikan definisi pada tema: “KETAATAN YANG MUTLAK”. Apa itu ketaatan dan apa itu kemutlakan? ketaatan adalah "sikap hati yang tunduk dan setia terhadap yang berotoritas atau yang lebih tinggi dalam hidupnya". Sedangkan Kemutlakan adalah "suatu patokan yang ditetapkan sebagai standar tanpa ada standar pilihan yang lain". Jadi ketaatan yang multak adalah suatu sikap hati yang tunduk dan setia dalam menjalankan standar yang ditetapkan oleh yang berotoritas atas hidupnya.

Dalam Injil Lukas 5:1-11, Lukas memaparkan tentang pemanggilan orang-orang yang dikenanNya, yang disebut sebagai murid-murid Tuhan (band. Mat. 4:18-22). Peristiwa pemanggilan dan pemilihan Tuhan terhadap orang-orang yang dikenanNya sangat unik adanya. Namun dalam teks ini, penulis lebih menyoroti dari segi nilai praktis yang terkandung di dalamnya, dimana peristiwa ini pada akhirnya membawa murid-murid Tuhan meresponi panggilan Tuhan.

Lukas 5:1-11 menceritakan tentang kehidupan para nelayan, yaitu Simon Petrus dan kawan-kawan sedang membereskan jala mereka. Hal ini dilatarbelakangi peristiwa sebelumnya, yaitu mereka sudah bekerja keras seharian untuk menangkap ikan dengan hasil yang nihil. Dengan kondisi yang seperti itu, bisa saja Simon Petrus dkk mengalami kelelahan dan kekecewaan yang luar biasa atas apa yang sudah dikerjakan dengan penuh kesungguhan. Sebab pekerjaan sebagai nelayan sudah menjadi profesinnya tiap-tiap hari. Mereka sudah terbiasa memprediksi tempat-tempat yang menghasilkan ikan yang banyak. Tapi apa yang terjadi dengan usaha keras mereka? Justru hasilnya nihil (ayat 5a). Dalam keadaan lelah dan kecewa yang melingkupi hati mereka, membuat mereka enggan untuk beraktivitas kembali. Seiring dengan suasana hati seperti itu, muncul suatu perintah dari Tuhan Yesus: “Bertolaklah ketempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan” (ayat 4). Perintah ini menjadi kontradiktif bagi Simon Petrus dkk. 

Mengapa demikian? Karena:
1). Mereka sudah seharian bekerja keras.
2). Pekerjaaan sebagai nelayanan sudah menjadi profeasinya tiap-tiap hari.
3). Mereka lebih menekankan pada nilai empiris (pengalaman).

Ketiga alasan ini menjadikan perintah Tuhan sebagai sesuatu yang kontradiktif atau bertolak belakang dari keadaan yang mereka alami. Namun demikian Petrus memberi respon yang baik terhadap perintah Tuhan, dan berkata: “karena Engkau yang menyuruhnya, maka aku akan menebarkan jala juga”. Dan dijelaskan di ayat 6-7, mereka mendapatkan hasil diluar prediksinya.   

Dari peristiwa ini, kita dapat belajar didalamnya; bahwa:
1. Perintah Tuhan adalah standar yang mutlak untuk dilakukan, dan tidak ada pilihan
    lain  untuk melakukan yang lain.
2. Kemutlakan dari perintah-perintah Tuhan harus dilakukan penuh dengan ketaatan
3. Ketaatan terhadap Yang Mutlak mendatangkan kebaikan bagi diri sendiri.

Kesimpulan:
Untuk itu merilah kita belajar dari peristiwa ini. Sekalipun kita diperhadapkan dalam kondisi yang tidak baik, kita belajar untuk taat  karena ketaatan adalah sikap dan tindakan yang mutlak untuk dikerjakan bagi orang-orang percaya dalam Yesus Kristus.       

BERKAT ATAU KUTUK

Ulangan 11:8-32
 
I) Berkat atau kutuk.

1)   Lebih baik dari Mesir dalam persoalan pengairan dan bercocok tanam.

a)   Ay 10: ‘bukanlah negeri seperti tanah Mesir’.
Mesir adalah negara yang tanpa hujan atau hanya sangat sedikit mendapat hujan, tetapi mereka mendapat air dari banjir tahunan dari sungai Nil.

Keil & Delitzsch: “In Egypt there is hardly any rain at all ... The watering of the land, which produces its fertility, is dependent upon the annual overflowing of the Nile” (= Di Mesir hampir tidak ada hujan sama sekali ... Pengairan tanah, yang menghasilkan kesuburan, tergantung pada peluapan tahunan dari Sungai Nil) - hal 347.

Matthew Poole: “Egypt, where, as all authors agree, there is little or no rain” (= Mesir, dimana, seperti semua pengarang setuju, hanya ada sedikit hujan atau tidak ada hujan sama sekali) - hal 358.
Ini menyebabkan di Mesir orang harus berjerih payah untuk melakukan pengairan.

Ay 10: ‘harus kauairi dengan jerih payah’.
KJV: ‘and wateresdt it with thy foot’ (= dan mengairinya dengan kakimu).
Kata-kata ‘mengairinya dengan kakimu’ bisa menunjuk pada 2 hal:
·        Di sawah / ladang mereka ada semacam got-got untuk mengalirkan air. Mereka mengalirkan air ke satu got, dan pada waktu got itu dirasa sudah cukup menerima air, mereka menutup jalan air ke got tersebut, dan membuka jalan ke got lain. Ini semua dilakukan dengan kaki. Dan karena itu dikatakan ‘mengairinya dengan kakimu’.
·        Mereka menggunakan semacam ‘mesin hidraulis’ yang digerakkan dengan kaki.

Kanaan berbeda dengan Mesir, karena Kanaan adalah negara dengan bukit dan gunung. Ini menyebabkan mereka tidak mungkin mengadakan pengairan seperti Mesir. Kanaan harus bergantung pada hujan yang diberikan oleh Allah.    


Ul 3:25 - “Biarlah aku menyeberang dan melihat negeri yang baik yang di seberang sungai Yordan, tanah pegunungan yang baik itu, dan gunung Libanon”.
Juga bdk. ay 11a: “Tetapi negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, ialah negeri yang bergunung-gunung dan berlembah-lembah”.

Pulpit Commentary: Tidak seperti Mesir, suatu tanah tanpa hujan dan menggunakan pengairan buatan. Kanaan tidak mempunyai sungai Nil. Kanaan meminum air dari hujan dari langit. Karena itu, itu merupakan tanah yang secara khusus tergantung kepada Allah. Memang kesuburan Mesir juga tergantung kepada Allah, tetapi secara kurang langsung. Penemuan / alat irigasi memberinya, atau kelihatannya memberinya, keadaan semi-tergantung. Sebaliknya, Palestina adalah tanah, yang karena keadaannya yang khusus, membuatnya tergantung untuk keberhasilan panennya pada karunia hujan secara langsung dari langit. Itu adalah tanah yang membutuhkan penyesuaian kondisi yang bersifat providensia - suatu perhatian setiap hari - untuk membuatnya menghasilkan hasil sepenuhnya yang mampu diberikannya (ay 12). Kebenaran yang digambarkan di sini adalah bahwa Allah menghendaki orang percaya untuk meletakkan hidupnya hari demi hari di bawah perhatian / pemeliharan langsung dariNya. Orang duniawi mungkin menginginkan, dan dalam taraf tertentu mungkin diijinkan untuk mencapainya, suatu posisi ketergantungan relatif kepada Allah: ia mungkin mendapatkan (dalam batasan tertentu) pengaturan dari rencana dan jalannya, dan oleh penemuan / alat yang sederhana dan pengaturan hukum-hukum alam, ia mungkin berpikir untuk meletakkan dirinya sendiri di luar kuasa dari campur tangan Allah terhadap dirinya. Tetapi orang yang saleh tidak menginginkan hal ini ataupun puas dengannya. Ia menginginkan mata Allah mengawasi nasibnya hari demi hari, ‘dari awal sampai akhir tahun’] - hal 204-205.

Pulpit Commentary: Bukit-bukit Kanaan mendapatkan irigasi mereka dari sumber-sumber di surga / langit, dan hanya iman yang taat yang bisa membuka sumber-sumber ini) - hal 207.

Pulpit Commentary: Kanaan merupakan tanah yang sangat baik untuk melatih bangsa yang rohani. Secara alamiah Kanaan tidak sesubur seperti lembah sungai Nil atau lembah Efrat. Karena itu bahaya kelaparan lebih cepat menyentuhnya dari pada Mesir atau Asyur. Tetapi itu cocok untuk membantu perkembangan ketergantungan kepada Allah dan pengharapan kepadanya. Jika penduduknya taat, maka tanah itu akan mengalir dengan susu dan madu; jika tidak taat, tanahnya akan menjadi coklat dan gundul karena hujan yang ditahan) - hal 211.

Pulpit Commentary: Jika seseorang tidak diminta untuk berusaha, jika segala sesuatu tumbuh untuk menyenangkan seleranya dan langit-langit mulutnya secara spontan, jika roti harian datang bahkan tanpa repot-repot meminta, itu akan merupakan tanah berbahaya dan kematian moral. Lebih baik bagi Israel bahwa mereka mendapati diri mereka sendiri diikat oleh nasib / takdir yang sehat pada ketergantungan kepada Allah dan kerja sama dengan Dia, dari pada jika tanah itu secara spontan menghasilkan semua kebutuhan manusia) - hal 211.

Pulpit Commentary: Gagasan tentang ‘ketidak-tergantungan’ merupakan bahaya yang besar dari hati manusia. Seandainya memungkinkan, kita lebih senang tidak berhutang kepada siapapun, bahkan tidak kepada Allah. Tetapi yang terjadi adalah bahwa kita tidak bisa menjadi tidak tergantung pada karunia / kemurahan hati Allah, tak peduli betapapun kerasnya kita berusaha. Dan itu adalah yang terbaik. Tanah perjanjian adalah tanah dimana kita bergantung dengan rendah hati kepada Allah, dan dengan demikian paling tidak tergantung kepada orang-orang dan hal-hal di sekeliling kita) - hal 211.

Penerapan:
  •     Hidup dengan penghasilan pas-pasan, sehingga setiap hari / saat harus berdoa ‘Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya’.
  •      Gereja dengan kas yang ngepas, sehingga setiap kali butuh beli sesuatu, harus berdoa kepada Tuhan.
  •    Kesehatan yang pas-pasan, sehingga dalam pekerjaan atau pelayanan harus selalu bergantung kepada Tuhan. Misalnya Paulus dengan duri dalam daging, yang menyebabkan ia bersandar kepada Tuhan.
  •     Bekerja dengan waktu yang ngepas, sehingga selalu harus minta tolong kepada Tuhan untuk membantu penyelesaian pekerjaan tersebut.
  •       Melayani dengan orang-orang yang bahkan terlalu sedikit, sehingga harus selalu berdoa meminta pertolongan Tuhan dalam pelayanan tersebut.
 
b)  Ay 12: suatu negeri yang dipelihara oleh TUHAN, Allahmu: mata TUHAN, Allahmu, tetap mengawasinya dari awal sampai akhir tahun”.

Pulpit Commentary: Itu merupakan tanah yang terus menerus diperhatikan oleh Yehovah, dan yang disokong oleh kemurahan hatiNya; dan karena itu merupakan suatu tanah yang sepenuhnya tergantung kepadaNya, dan dengan demikian merupakan tempat yang cocok untuk suatu bangsa yang juga sepenuhnya tergantung kepadaNya, yang berhutang kepada kasih karuniaNya semua keberadaan mereka dan milik mereka) - hal 195.
 
c)   Ay 14: “maka Ia akan memberikan hujan untuk tanahmu pada masanya, hujan awal dan hujan akhir”.

1.  Hujan memang diberikan oleh Tuhan.
2Taw 7:13a - “Bilamana Aku menutup langit, sehingga tidak ada hujan”.
Yer 14:22 - “Adakah yang dapat menurunkan hujan di antara dewa kesia-siaan bangsa-bangsa itu? Atau dapatkah langit sendiri memberi hujan lebat? Bukankah hanya Engkau saja, ya TUHAN Allah kami, Pengharapan kami, yang membuat semuanya itu?”.

Yer 51:16 - “Apabila Ia memperdengarkan suaraNya, menderulah bunyi air di langit, Ia menaikkan kabut awan dari ujung bumi, Ia membuat kilat serta dengan hujan, dan mengeluarkan angin dari perbendaharaanNya”.

2.  Pemberian hujan merupakan tindakan kebaikan Allah.
Bdk. Mat 5:45 - “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar”.

3.  Hujan awal dan hujan akhir.
a.  Macam-macam nama.
Hujan awal / pertama juga disebut hujan musim gugur atau hujan pada awal musim. Hujan akhir / belakangan juga disebut hujan musim semi atau hujan pada akhir musim.

b.  Saat dari kedua hujan ini.
Kelihatannya para penafsir berbeda-beda dalam persoalan ini; lihat kutipan-kutipan di bawah.

c.  Manfaat dari kedua hujan ini.
Hujan awal bermanfaat untuk membasahi tanah sehingga mereka bisa menanam, dan membasahinya setelah benih ditaburkan. Tanpa hujan awal, tidak akan ada tanaman. Hujan akhir bermanfaat untuk mengisi bulir-bulir dari tanaman tersebut. Tanpa hujan akhir, tidak ada panen.   
  • Yoel 2:23 - “Hai bani Sion, bersorak-soraklah dan bersukacitalah karena TUHAN, Allahmu! Sebab telah diberikanNya kepadamu hujan pada awal musim dengan adilnya, dan diturunkanNya kepadamu hujan, hujan pada awal dan hujan pada akhir musim seperti dahulu”.
  • Amos 4:7 - “‘Akupun telah menahan hujan dari padamu, ketika tiga bulan lagi sebelum panen; Aku menurunkan hujan ke atas kota yang satu dan tidak menurunkan hujan ke atas kota yang lain; ladang yang satu kehujanan, dan ladang, yang tidak kena hujan, menjadi kering;”.
  • Yak 5:7 - “Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi.

      d)  Kalau mereka tidak taat, Tuhan akan menutup langit, sehingga tidak ada 
           hujan, dan tanah tidak mengeluarkan hasil (ay 17).

2)   Panjang umur di negeri perjanjian.

Ay 21: “supaya panjang umurmu dan umur anak-anakmu di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepada mereka, selama ada langit di atas bumi. Terjemahan Kitab Suci Indonesia agak kurang tepat.

KJV: ‘as the days of heaven upon the earth’ (= sebanyak hari-hari dari langit di atas bumi).

NIV: ‘as many as the days that the heavens are above the earth’ (= sebanyak hari dimana langit ada di atas bumi).
Artinya: selama-lamanya.

3)   Pemberian seluruh tanah Kanaan.

Ay 24: Setiap tempat yang diinjak oleh telapak kakimu, kamulah yang akan memilikinya: mulai dari padang gurun sampai gunung Libanon, dan dari sungai itu, yakni sungai Efrat, sampai laut sebelah barat, akan menjadi daerahmu”.

Ay 24a (yang saya garis bawahi) dibatasi oleh ay 24b.
Matthew Poole: “‘Every place;’ not absolutely, as if the Jews should be lords of all the world, as the rabbins fondly conceit; but in the Promised Land, as it is restrained in the following words” (= ) - hal 358.

Bandingkan dengan:
  • ·      Yos 1:3-4 - “Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa. Dari padang gurun dan gunung Libanon yang sebelah sana itu sampai ke sungai besar, yakni sungai Efrat, seluruh tanah orang Het, sampai ke Laut Besar di sebelah matahari terbenam, semuanya itu akan menjadi daerahmu”.
  • ·      Bil 34:1-12 - “TUHAN berfirman kepada Musa: ‘Perintahkanlah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka: Apabila kamu masuk ke negeri Kanaan, maka inilah negeri yang akan jatuh kepadamu sebagai milik pusaka, yakni tanah Kanaan menurut batas-batasnya. Adapun sisi selatanmu ialah dari padang gurun Zin menyusur Edom, maka batas selatanmu mulai dari ujung Laut Asin di sebelah timur. Lalu batasmu membelok di selatan pendakian Akrabim, terus ke Zin dan berakhir di sebelah selatan Kadesh-Barnea. Sesudah itu ia mencapai Hazar-Adar, dan terus ke Azmon. Kemudian batas itu membelok dari Azmon ke sungai Mesir dan berakhir ke laut. Batas baratmu ialah laut besar dan pantainya; itulah batas baratmu. Inilah batas utaramu: mulai dari laut besar haruslah kamu buat tanda batas ke gunung Hor, dari gunung Hor harus kamu buat tanda batas ke jalan yang menuju ke Hamat, lalu batas itu mencapai Zedad. Kemudian batas itu mencapai Zifron dan berakhir di Hazar-Enan; itulah batas utaramu. Sebagai batasmu di sebelah timur haruslah kamu membuat tanda batas dari Hazar-Enan ke Sefam. Dari Sefam batas itu turun ke Ribla, di sebelah timur Ain; kemudian batas itu turun lagi dan mencapai tebing danau Kineret di sebelah timur. Lalu batas itu turun ke sungai Yordan dan berakhir di Laut Asin. Itulah negerimu menurut batas-batasnya sekeliling.’”.

Ini digenapi pada jaman Salomo. Bdk. 2Taw 9:26 - “Dan ia memerintah atas semua raja mulai dari sungai Efrat sampai negeri orang Filistin dan sampai ke tapal batas Mesir”. 

Catatan: Bentuk berkat-berkat Tuhan bagi kita dalam jaman Perjanjian Baru bisa berbeda.

Pulpit Commentary: Karena itu, ketaatan adalah piagam dari kesuksesan. Tetapi kita menyerahkan kepada Bapa kita yang penuh kasih untuk menentukan apa kesuksesan kita itu. Kita tidak berkeras bahwa itu harus berbentuk emas dan perak, daging rusa dan anggur. Sukses dari penaklukan diri sendiri, sukses sebagai seorang dermawan bagi masyarakat, sukses dalam melayani generasi kita oleh kehendak Allah sebelum kita mati, - ini jauh lebih baik dari pada sukses dari pasukan yang menyerbu dengan daun salam yang dicelup dalam darah kental (?)] - hal 211.

Pulpit Commentary: Dan jelas bahwa semua ini hanyalah merupakan type dari sukses yang tetap menanti umat Allah yang taat. Tentu kesuksesan sementara bukanlah bentuk kesuksesan yang diinginkan atau diberikan sekarang. Banyak dari umat Allah terus miskin, tetapi bagaimanapun mereka sukses dalam kehidupan. Pada waktu mereka mempunyai kasih karunia untuk menunjukkan roh yang puas di tengah-tengah sumber-sumber mereka yang terbatas, mereka sukses dalam mendemonstrasikan bahwa Allah itu serba mencukupi, dan merupakan kesaksian terbaik bagi kenyataan dari agama di hadapan manusia. Pada waktu orang-orang kudus bisa menyanyi bersama Habakuk: ‘Sekalipun pohon ara tidak berbunga’, dst. ‘namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku’ (Hab 3:17-18), mereka sebetulnya telah berhasil dalam hal-hal yang penting dalam kehidupan] - hal 212a.
 
II) Ketaatan terhadap Firman Tuhan.


1)   Dasar dari tuntutan untuk taat.

Ay 8: “‘Jadi kamu harus berpegang pada seluruh perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya kamu kuat untuk memasuki serta menduduki negeri, ke mana kamu pergi mendudukinya”.

Kata ‘Jadi’ pada awal ay 8, seharusnya adalah ‘Karena itu’, seperti dalam KJV, yang menterjemahkan ‘Therefore’ (= Karena itu).

J. A. Thompson (Tyndale): “The word ‘therefore’ underlines the fact that Yahweh’s claim to Israel’s obedience rests on what He has done for them” (= Kata ‘Karena itu’ menekankan fakta bahwa tuntutan Yahweh terhadap ketaatan Israel didasarkan pada apa yang telah Ia lakukan bagi mereka) - hal 153.
Juga perhatikan bahwa apa yang dilakukan oleh TUHAN dibicarakan dalam ay 2-7, dan bagian tersebut diapit oleh ay 1 dan ay 8 yang sama-sama menuntut ketaatan dari bangsa Israel.

Kalau pada saat itu Allah telah melakukan hal yang besar bagi bangsa Israel, dengan membebaskan mereka dari Mesir, maka pada jaman ini, Allah telah melakukan hal yang besar bagi kita dengan mengirimkan AnakNya datang ke dalam dunia, menjadi manusia seperti kita, dan lalu menderita dan mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita. Karena itu, Ia tetap berhak untuk menuntut ketaatan dari kita.


2)  Apakah Allah menuntut ketaatan yang sempurna?

Ay 8,13,22,27,32 tidak boleh diartikan bahwa Allah menuntut ketaatan yang sempurna. Calvin mengatakan bahwa dalam tuntutan untuk taat ini tercakup pengampunan dari Allah terhadap dosa anak-anakNya, dan karena itu janji itu bukannya tidak berguna pada saat ketaatan mereka tidak sempurna.

Calvin (tentang Im 26:3): “‘to walk in the commandments of God,’ is not precisely equivalent to performing whatever the Law demands; but in this expression is included the indulgence with which God regards His children and pardons their faults. The promise, therefore, is not without fruit as respects believers, whilst they endeavour to consecrate themselves to God, although they are still far from perfection; ... their obedience would not be acceptable to Him because it was deserving, but because He visits with His paternal favour” (= ‘berjalan dalam perintah-perintah Allah’ bukanlah secara persis sama dengan melakukan apapun yang dituntut hukum Taurat; tetapi dalam ungkapan ini tercakup kebaikan dengan mana Allah memandang anak-anakNya dan mengampuni kesalahan-kesalahan mereka. Karena itu, janji ini bukannya tanpa buah berkenaan dengan orang percaya, sementara mereka berusaha untuk membaktikan diri mereka kepada Allah, sekalipun mereka masih jauh dari kesempurnaan; ... ketaatan mereka tidak diterima olehNya karena layak, tetapi karena Ia mengunjungi dengan kebaikanNya sebagai Bapa) - hal 214-215.


3)  Peringatan untuk tidak menyembah allah lain (ay 16).

Ay 16: “Hati-hatilah, supaya jangan hatimu terbujuk, sehingga kamu menyimpang dengan beribadah kepada allah lain dan sujud menyembah kepadanya”.

Calvin menyoroti kata ‘Hati-hatilah’ pada awal ay 16, dan lalu memberi komentar sebagai berikut:
Dengan kata-kata itu ia memberitahukan bahwa kecuali mereka dengan rajin / tekun memperhatikan diri mereka sendiri, tidak ada yang lebih mudah untuk mereka dari pada jatuh ke dalam jerat dari setan. ... Jadi, hendaklah kita belajar, bahwa karena banyak penipu dan kebohongan yang mengepung kita di setiap sisi, besar kemungkinannya bahwa kita segera jatuh ke dalam hal-hal itu, kecuali kita menjaga diri kita sendiri dengan hati-hati) - hal 126.

Pulpit Commentary: "" "Penolakan injil merupakan suatu pemilihan terhadap allah-allah lain lebih dari pemilihan terhadap satu-satunya Allah yang hidup dan benar. Penyembahan berhala yang merupakan bahaya dan pencobaan dari Israel ditiru dalam semua yang menolak belas kasihan yang dinyatakan dalam Kristus. Sebetulnya tujuan yang lain dari penyembahan telah dipilih; dunia, atau kekayaan, atau diri sendiri, atau kuasa diharapkan untuk melakukan untuk jiwa yang tidak percaya apa yang hanya bisa dilakukan oleh Allah. Sifat-sifatNya diserahkan kepada makhluk-makhluk ciptaan ini, dan suatu keyakinan yang palsu mengambil tempat yang seharusnya ditempati oleh keyakinan yang benar. Ketidak-percayaan pada dasarnya merupakan penyembahan berhala" - hal 213.

P. C. Craigie (NICOT): “The Canaanites believed that the gift of the rains lay in the power of the god Baal / Hadad. The Israelites were to be careful to recognize the Lord as the giver of rain; if they failed to do so and worshipped other gods, they would learn the truth the hard way” (= Orang-orang Kanaan percaya bahwa karunia hujan terletak dalam kuasa dari allah Baal / Hadad. Orang-orang Israel harus hati-hati untuk mengenali Tuhan sebagai pemberi hujan; jika mereka gagal melakukan demikian, dan menyembah allah-allah lain, mereka akan mempelajari kebenaran itu dengan cara yang keras) - hal 210.

Bandingkan dengan Hos 2:7-12 - “(7) Tetapi dia tidak insaf bahwa Akulah yang memberi kepadanya gandum, anggur dan minyak, dan yang memperbanyak bagi dia perak dan emas yang dibuat mereka menjadi patung Baal. (8) Sebab itu Aku akan mengambil kembali gandumKu pada masanya dan anggurKu pada musimnya, dan akan merampas kain bulu domba dan kain lenanKu yang harus menutupi auratnya. (9) Dan sekarang, Aku akan menyingkapkan kemaluannya, di depan mata para kekasihnya, dan seorangpun tidak akan melepaskan dia dari tanganKu. (10) Aku akan menghentikan segala kegirangannya, hari rayanya, bulan barunya dan hari Sabatnya dan segala perayaannya. (11) Aku akan memusnahkan pohon anggurnya dan pohon aranya, yang tentangnya dikatakannya: Ini semuanya pemberian kepadaku, yang dihadiahkan kepadaku oleh para kekasihku! Aku akan membuatnya menjadi hutan, dan binatang-binatang di padang akan memakannya habis. (12) Dan Aku akan menghukum dia karena hari-hari ketika dia membakar korban untuk para Baal, berhias dengan anting-antingnya dan kalungnya, dan mengikuti para kekasihnya dan melupakan Aku,’ demikianlah firman TUHAN”.


4)  Sikap terhadap hukum Taurat / Firman Tuhan.

Ay 18-20: “Tetapi kamu harus menaruh perkataanku ini dalam hatimu dan dalam jiwamu; kamu harus mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu. (19) Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun; (20) engkau harus menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu”.

Calvin: “In fine, he commands them to have the Law not only impressed on the mind, but embraced with sincere affection” (= Singkatnya, Ia memerintahkan mereka supaya hukum Taurat bukan hanya ditanamkan pada pikiran, tetapi dipeluk dengan kasih yang tulus) - hal 368.

Calvin: “without diligent exercise, it usually happens that whatever men have once learnt is soon lost” (= tanpa penggunaan / latihan yang rajin, biasanya terjadi bahwa apapun yang orang-orang pernah pelajari hilang dengan cepat) - hal 368-369.

 
5)  Desakan untuk melakukan komitmen (ay 26-28).

Ay 26-28: “(26) Lihatlah, aku memperhadapkan kepadamu pada hari ini berkat dan kutuk: (27) berkat, apabila kamu mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; (28) dan kutuk, jika kamu tidak mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, dan menyimpang dari jalan yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal”.

a)  Firman Allah dan pelayanan Musa, sebagai juru bicara Allah.
Calvin: “he repeats what we have met before, that God, who is both a faithful rewarder, and a severe judge, is the Author of the Law; yet at the same time he magnifies his own ministry, since it behoved them to depend upon God, and to acquiesce in His commandments, in such manner as still to submit themselves to His Prophet. For such is men’s pride, that they desire to fly above the clouds to listen to God; whilst He would be heard in His servants, by whose mouth He speaks. Moses, therefore, would again enforce upon them this humility, when he states that he enjoins what God has commanded, as if to call himself the organ of the Holy Spirit” (= ia mengulangi apa yang telah kita temui sebelumnya, bahwa Allah, yang adalah baik seorang pemberi pahal yang setia, maupun seorang hakim yang keras, adalah Pengarang / Pencipta dari hukum Taurat; tetapi pada saat yang sama ia membesarkan pelayananya sendiri, karena mereka perlu untuk bergantung kepada Allah, dan menyetujui perintah-perintahNya, dengan cara sedemikian rupa sehingga mereka tetap menundukkan diri mereka sendiri kepada NabiNya. Karena demikianlah kesombongan manusia, sehingga mereka ingin untuk terbang di atas awan dan mendengar Allah; sementara Ia ingin didengar dalam pelayan-pelayanNya, oleh mulut siapa Ia berbicara. Karena itu, Musa menekankan lagi kepada mereka kerendahan hati ini, pada waktu ia menyatakan bahwa ia memerintahkan apa yang Allah telah perintahkan, seakan-akan menyebut dirinya sendiri sebagai organ / alat dari Roh Kudus) - hal 210.

b)  Tafsiran Arminian dari Adam Clarke.
Adam Clarke: “If God had not put it in the power of this people either to obey or disobey; if they had not had a free will, over which they had complete authority, to use it either in the way of willing or nilling; could God, with any propriety, have given such precepts as these, sanctioned with such promises and threatenings? ... A stone is not rewardable because in obedience to the laws of gravitation, it always tends to the centre; nor is it punishable because, in being removed from the centre, in its tending or falling towards it again it takes away the life of a man. ... If ye will obey, (for God is ever ready to assist,) ye shall live; if ye will disobey and refuse that help, ye shall die” [= Seandainya Allah tidak meletakkan dalam kuasa dari bangsa ini, atau untuk mentaati atau untuk tidak mentaati; seandainya mereka tidak mempunyai kebebasan kehendak, atas mana mereka mempunyai otoritas lengkap, untuk menggunakannya dengan cara mau atau tidak mau; bisakah Allah, dengan benar / pantas, memberikan peraturan seperti ini, yang didukung oleh janji dan ancaman seperti itu? ... Sebuah batu tidak akan diberi pahala karena ia mentaati hukum gravitasi, ia selalu cenderung untuk jatuh ke pusat (bumi); juga batu itu tidak bisa dihukum, karena pada waktu ia dijauhkan dari pusat, dalam kecenderungannya atau kejatuhannya ke pusat ia membunuh seorang manusia. ... Jika engkau mau taat, (karena Allah selalu siap untuk membantu), engkau akan hidup; jika engkau tidak mau taat dan menolak pertolongan itu, engkau akan mati] - hal 771.

Bantahan:

1.  Adanya perintah kepada manusia yang disertai pahala / ancaman, tidak berarti bahwa manusia mampu mentaati perintah tersebut. Contoh: dalam Perjanjian Baru kita diperintahkan untuk percaya kepada Yesus (Kis 16:31). Yang percaya akan selamat, yang tidak percaya akan binasa. Tetapi toh Kitab Suci / Firman Tuhan berkata: “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. ... Lalu Ia berkata: ‘Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepadaKu, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.’” (Yoh 6:44,65).

2.  Manusia berdosa tidak bisa berbuat baik.
Ini dinyatakan secara jelas oleh Kitab Suci (Kej 6:5  Kej 8:21  Maz 58:4  Yes 64:6  Yer 4:22  Yer 13:23  Mat 7:16-18  Yoh 8:34  Yoh 15:4-5  Ro 6:16-17,20-21  Ro 7:18-19  Ro 8:7-8  Tit 1:15).

·       Kej 6:5 - “Ketika dilihat TUHAN bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, ...”.

·     Kej 8:21b - “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya.

·   Maz 58:4 - “Sejak lahir orang-orang fasik telah menyimpang, sejak dari kandungan pendusta-pendusta telah sesat”.

·   Yes 64:6a - “Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor.

Perhatikan bahwa Yesaya tidak berkata ’segala kejahatan kami seperti kain kotor’ ataupun ‘sebagian kesalehan kami seperti kain kotor’, tetapi ‘segala kesalehan kami seperti kain kotor’! Kalau ‘kesalehan’nya saja seperti kain kotor, bagaimana ‘kejahatan’ / ‘dosa’nya? Yeh 36:17 - “‘Hai anak manusia, waktu kaum Israel tinggal di tanah mereka, mereka menajiskannya dengan tingkah laku mereka; kelakuan mereka sama seperti cemar kain di hadapanKu”.

·      Yer 4:22 - “Sungguh, bodohlah umatKu itu, mereka tidak mengenal Aku! Mereka adalah anak-anak tolol, dan tidak mempunyai pengertian! Mereka pintar untuk berbuat jahat, tetapi untuk berbuat baik mereka tidak tahu”.

·     Yer 13:23 -“Dapatkah orang Etiopia mengganti kulitnya atau macan tutul mengubah belangnya? Masakan kamu dapat berbuat baik, hai orang-orang yang membiasakan diri berbuat jahat?”.

·  Mat 7:16-18 menunjukkan bahwa pohon yang tidak baik tidak bisa menghasilkan buah yang baik. Gara-gara dosa Adam, maka semua manusia lahir sebagai orang berdosa (pohon yang tidak baik), dan karena itu jelas bahwa tidak ada orang yang bisa menghasilkan buah yang baik / perbuatan baik.

·        Yoh 8:34b - “setiap orang yang berbuat dosa adalah hamba dosa”.
Istilah ‘hamba’ perlu ditekankan di sini. Dengan manusia dinyata-kan sebagai ‘hamba dosa’, itu jelas menunjukkan bahwa ia selalu / terus menerus menuruti dosa, dan tidak bisa berbuat baik. Ini dinyatakan secara lebih jelas oleh Ro 6:16-17,20-21. Perhatikan khususnya Ro 6:20 yang berbunyi: “Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran. Istilah ‘bebas dari kebenaran’ itu jelas menunjukkan bahwa manusia berdosa itu tidak bisa berbuat apapun yang benar!

·    Yoh 15:4-5 - “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa”.

Ini jelas menunjukkan bahwa sama seperti ranting anggur tidak bisa berbuah kalau tidak melekat pada pokok anggur, demikian juga manusia di luar Kristus sama sekali tidak bisa berbuat apapun yang baik.

·    Ro 7:18-19 - “Sebab aku tahu bahwa di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat”.

Dari ayat ini kelihatan sepintas bahwa dalam diri manusia ada kehendak yang baik. Tetapi jelas bahwa ayat ini tidak boleh ditafsirkan bahwa dalam diri manusia berdosa di luar Kristus itu sendiri bisa ada kehendak yang baik, karena:

*        penafsiran ini akan bertentangan dengan Ro 7:18nya yang mengatakan ‘tidak ada sesuatu yang baik’.

*        penafsiran ini juga akan bertentangan dengan Fil 2:13 yang berbunyi:
Fil 2:13 berbunyi: ”karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaanNya”.
Ini terjemahannya kurang jelas. Perhatikan terjemahan-terjemahan Kitab Suci bahasa Inggris di bawah ini:
KJV: “For it is God which worketh in you both to will and to do of his good pleasure” (= Karena Allahlah yang bekerja dalam kamu baik untuk menghendaki maupun untuk melakukan kehendakNya yang baik).

RSV: “for God is at work in you, both to will and to work for his good pleasure” (= karena Allah bekerja dalam kamu, baik untuk menghendaki maupun untuk mengerjakan untuk kehendakNya yang baik).

NASB: “for it is God who is at work in you, both to will and to work for His good pleasure” (= karena Allahlah yang bekerja dalam kamu, baik untuk menghendaki maupun untuk mengerjakan untuk kehendakNya yang baik).

NIV: “for it is God who works in you to will and to act according to his good purpose” (= karena Allahlah yang bekerja dalam kamu untuk menghendaki dan untuk berbuat menurut rencanaNya yang baik).

Ini menunjukkan bahwa baik keinginan maupun kemampuan untuk melakukan apa yang baik itu datang dari Tuhan.

Jadi, Ro 7:18-19 ini bukan menggambarkan Paulus pada waktu belum kristen, tetapi sesudah ia menjadi kristen (perhatikan bahwa ayat itu menggunakan present tense, bukan past tense). Karena itu ia sudah mempunyai kemauan / kehendak yang baik (dari Roh Kudus), tetapi bagaimanapun apa yang ia capai / lakukan jauh lebih rendah dari apa yang ia kehendaki, dan berdasarkan penga-laman itu ia menuliskan ayat itu.
·      Ro 8:7-8 - “Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah”.
·      Tit 1:15 - “Bagi orang suci semuanya suci; tetapi bagi orang najis dan orang tidak beriman suatupun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis”. 

Catatan: memang dari ayat-ayat di atas ada yang bisa ditafsirkan hanya berlaku untuk orang-orang tertentu saja (misalnya Yer 4:22 di atas), tetapi pada umumnya, bahkan sebetulnya mungkin bisa dikatakan semuanya, adalah ayat-ayat yang berlaku umum (untuk semua manusia berdosa di luar Kristus).

3. Kitab Suci berulangkali menunjukkan bahwa kalau seseorang bisa taat, itu disebabkan karena adanya pekerjaan Tuhan dalam dirinya.
Contoh: Yer 24:7 - Aku akan memberi mereka suatu hati untuk mengenal Aku, yaitu bahwa Akulah TUHAN. Mereka akan menjadi umatKu dan Aku ini akan menjadi Allah mereka, sebab mereka akan bertobat kepadaKu dengan segenap hatinya”.

c)   Keharusan untuk mengambil keputusan.

Pulpit Commentary: “God summons us to decision. ... When light comes, decision is inevitable. We must settle what our attitude towards it will be. In decreeing not to choose, we in reality do choose” (= Allah memanggil kita kepada keputusan. ... Pada saat terang datang, keputusan tidak bisa dihindarkan. Kita harus menentukan sikap kita terhadapnya. Dalam menetapkan untuk tidak memilih, dalam kenyatannya kita sudah memilih) - hal 205.

Pulpit Commentary: “We cannot remain the same, after obtaining the knowledge of God’s will as we were before. Necessity requires that we should be either better or worse. ... The fire that does not melt, hardens. To know God’s will, and not to do it, inflicts unspeakable mischief upon the soul” (= Kita tidak bisa tetap sama, setelah mendapatkan pengetahuan tentang kehendak Allah seperti kita sebelumnya. Kita harus menjadi lebih baik atau lebih buruk. ... Api yang tidak mencairkan, mengeraskan. Mengetahui kehendak Allah, dan tidak melakukannya, mengakibatkan kerusakan yang tidak terlukiskan pada jiwa) - hal 209.

 
Kesimpulan / penutup. 

Pulpit Commentary: Umat Allah dipanggil untuk menempati suatu posisi yang diberkati tetapi membahayakan. Itu memastikan kebaikan yang tidak biasa, tetapi itu juga membukakan mereka, jika tidak taat, pada hajaran dan penghukuman yang langsung dan keras. Makin tinggi posisi kedekatan kepada Allah, makin besar tanggung jawab yang dibawa oleh posisi itu terhadap mereka yang menikmatinya) - hal 205.

Clarke mengatakan bahwa dalam kenyataannya sekarang, Kanaan merupakan negara yang tidak subur. Mengapa demikian? Karena mereka tidak taat, sehingga kutukan Allahlah yang menimpa mereka. Ini menjadi bukti keotentikan dari 5 kitab Musa (Pentateuch).

Kita baru memasuki tahun 2012 yang baru. Kata-kata dalam ay 26-28 bisa diberlakukan bagi kita. Kalau kita mau taat kepada Tuhan, kita diberkati, dan kalau kita tidak taat, kita dikutuk. Ini berlaku dalam segala segi kehidupan kita, seperti:
 
·        dalam kerajinan berbakti.
·        dalam belajar Firman Tuhan.
·        dalam kehidupan doa / saat teduh.
·        dalam pelayanan / pemberitaan Injil.
·        dalam memberi persembahan.
·        dalam usaha bersekutu dan mengasihi sesama saudara seiman.
·        dalam pekerjaan / study.
·        dan sebagainya.

Renungkan: Apa pilihan saudara? Kiranya Tuhan memberkati dan memimpin saudara dalam memilih.
-AMIN-