Jumat, 10 Februari 2012

PEMENANG SEJATI


I Kor.3:12-14, Filip 3:13-14

Hidup itu adalah pertandingan. William James mengatakan: “jika hidup ini bukanlah sebuah pertandingan yang sesungguhnya, yang di dalamnya segala sesuatu selalu di raih dengan sukses, hidup ini tidak lebih baik dari sebuah permainan drama pribadi dimana seseorang boleh menarik diri sesuka hati kapan saja. Tetapi hidup ini terasa seperti pertandingan, seakan-akan ada sesuatu yang liar di alam semesta yang dgn seluruh cita-cita dan keyakinan, perlu kita menangkan kembali.” Dalam nats yang kita pelajari, rasul Paulus mengilustrasikan kehidupan kekristenan itu dengan pertandingan atletik. Setiap orang percaya berada di arena pertandingan untuk berlari menuju garis finish. Hal inilah yang membedakannya dengan pertandingan duniawi. Dalam pertandigan duniawi yang bertanding hanya beberapa orang (menjadi peserta) yang lain sebagai penonton. Tetapi dalam pertandigan rohani setiap kita menjadi peserta pertandingan. (I Kor.9:25).

Setiap orang percaya ditentukan untuk menjadi pemenang, bahkan lebih dari pemenang (band. Roma.8:37). Istilah “lebih dari pemenag” menunjukkan bahwa setiap orang Kristen memilki kans untuk menjadi pemenag sejati. Pemenang sejati adalah Seorang juara yang mempertahankan kemenangannya secara kontinyu, bukan menjadi juara sementara. Bagaimana menjadi pemenang sejati?

1. Tidak cepat merasa puas (Filp.3:12a)
Dalam ayat 12,Paulus berkata: “bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya”. Inilah penyataan dan filsafat seorang pemenag sejati. Paulus tidak menarasa puas dengan prestasi rohani yang sudah dicapainya saat itu, walaupun kita tahu berbagai prestasi rohani sudah dicapainya saat itu. Sifat tidak merasa puas dengan prestasi rohani yang sudah diraih akhirnya mendorong Paulus untuk meningkatkan dan berkarya lebih lagi dalam mempertahankan kemenangan yang sudah dan yang akan diraihnya.

Banyak orang Kristen merasa puas dengan prsestasi rohaninya, kenapa demikian? Karena sering membandingkan prestasinya dengan orang lain. Sering diantara kita berkata: saya lebih baik dari si anu dalam pelayanan, saya lebih baiiik…..! saat kita membandingkan diri dengan orang lain maka akan muncul dalam diri kepuasan. Kenapa Paulus memiliki sifat tidak merasa puas? Karena tidak pernah membandingkan prestasi rohaninya dengan orang lain, tetapi membandingkannya dengan Kristus. Ketika kita membandingkan apa yang telah kita perbuat dengan apa yang Yesus perbuat atas kita, maka akan mendorong kita untuk lebih berkarya lagi.

2. Melupakan apa yg ada di belakang (13a)
           Seorang pelari haruslah menangggalkan ransel dibelakang punggungnya atau melupakan masa lalunya agar ia memiliki kecepatan berlari maksimal. Setiap org memiliki masa lalu. Untuk menjadi pemenang sejati maka kita harus berdamai dengan masa lalu kita. Kata “melupakan” dalam hal ini bukan berarti tidak mengingatnya, tetapi tidak lagi dipengaruhi atau dikuasai oleh masa lalu itu. Kalau hidup kita masih dipengaruhi atau di kuasai oleh masalalu kita, maka hal itu akan menghambat laju dinamika kerohanian kita. Perlu di ingat bahwa masa lalu tidak akan pernah menentukan masa depan kita. Tetapi masa depan kita di tentukan oleh masa Sekarang ini. Apa yang anda perbuat pada masa Sekarang ini menjadi penentu keberhasilan masa depan anda.

3. Mendisiplin diri (I Kor.9:27)
            Pendisiplinan diri sangat diperlukan dalam suatu perlombaan. Untuk bisa menjadi pemenang perlu pendisiplinan diri. Banyak orang menempuh jalan yang mudah dan instan untuk mencapai apa yang digapai, yang penting sampai pada tujuan sekalipun tanpa pendisiplinan diri. Rasul Paulus mengatakan bahwa tak seorangpun pernah mencapai sesuatu tanpa disiplin diri yang keras.

4. Mengarahkan diri pada tujuan (filp.3:13b, I Kor.9:26)
              Seorang pelari harus senantiasa memandang garis finish yang ada dihadapannya. Seorang pelari yang focus ke depan berarti ia tahu kemana tujuannya berlari. Ia tidak sekedar berlari, tetapi berlari pada tujuan (Bnd.1 Kor.9:26) untuk meraih hadiah atau mahkota yang kelak akan mjd miliknya. Ketika seorang pelari memandang serta menginginkan hadiah yang akan diraihnya, maka dalam dirinya akan muncul semangat/”andrenalin rohani” yang membantu ia untuk senantiasa menjadi pemenang sejati. Selamat bertanding

Kesimpulan:  
""  Seorang pemenang sejati adalah seorang juara yg mempertahankan kemenangannya secara terus-menerus ". 

MEMBERI PENILAIAN “SIKAP MENGHAKIMI"



(Yoh.7:14-22)

Dalam khotbahnya, Tuhan Yesus menyampaikan pengajaran tentang hal “Menghakimi Sesama”. Pengajaran ini muncul karena dilatarbelakangi oleh sikap orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yamg begitu beraninya memberikan penilain kepada diriNya, tanpa ada penyelidikan secara seksama.
Dalam hal ini, Tuhan Yesus memberikan contoh praktis kepada kita dalam bertingkah laku, yaitu: bagaimana sikap kita dalam memperlakukan orang lain.
 
1.    Apa yang saudara ketahui tentang istilah menghakimi?
Menghakimi (kata kerja) berasal dari kata "Hakim" (benda): "seseorang yang bertindak mengambil suatu keputusan dalam satu perkara berdasarkan suatu penilaian secara tepat dan benar (akurat). “Menghakimi” mempunyai konotasi negative, yaitu: "suatu tindakan secara radikal untuk memberikan penilain kepada kepada orang lain, tanpa adanya penyelidikan secara seksama."

2.  Mengapa kita tidak diperkenan Tuhan untuk menghakimi orang lain? dan ciri-ciri dari sikap menghakimi itu adalah: 
  • menuduh     
  • mencari kesalahan orang lain   
  • menjatuhkan      
  • merusak hidup orang lain.
Hal ini dilahirkan dari sikap hati yang dengki atau yang kita kenal dengan sikap iri hati.

3. Apakah benar bahwa Mat.7:1-6 mempunyai arti:
  • Bahwa Yesus meniadakan lembaga peradilan?
  • Bahwa orang Kristen tidak boleh mengkritik orang lain?

4. Langkah-langkah yang harus kita buat supaya kita tidak mudah menghakimi orang lain?
  • Belajar untuk mendengar & lambat utk berbicara & bertindak
  • Belajar menerima kelebihan  orang lain.
  • Menyadari bahwa diri kita bukanlah Allah tetapi manusia yg telah jatuh dalam dosa  alias belum sempurna adanya (Mat.7:1-3)
 Kesimpulan
"Kunang di seberang lautan anda ketahui, tetapi selumbar daun dimata anda tidak anda ketahui", untuk itu jangan menghakimi orang lain. 

Minggu, 05 Februari 2012

KUNCI MEMAHAMI ISLAM


Orang Barat mengalami kesulitan memahami Islam karena mereka tidak mengerti bahwa Islam merupakan suatu bentuk dari imperialisme budaya di mana agama dan budaya Arab abad ke-7 ditingkatkan statusnya menjadi hukum Illahi.

Rohani (Sacred) vs Duniawi (Sekuler)

Kesulitan dalam memahami Islam berakar pada konsep filosofi Barat tradisional mengenai dikotomi duniawi vs rohani. di Barat, organisasi keagamaan tidaklah diperlakukan sebagai penguasa yang mengatur semua sendi-sendi kehidupan duniawi. Bahkan sebaliknya, terdapat banyak segi-segi kehidupan sekuler di mana agama tidak mempunyai wewenang sama sekali.

Jadi ada bentuk pemisah antara gereja dan gereja. Misal: organisasi_organisasi keagamaan di Barat tidak dapat mengatur hukum-hukum politik. Di lain pihak, agama Islam tidak dapat diperlakukan sebagai keyakinan agama yang sifatnya pribadi/perorangan. Agama Islam bukan hanya sekedar yang kamu percaya dan selanjutnya kamu hidup seperti apayang kamu suka. Di negara-negara Islam, wacana sekukler tidaklah begitu exist.

Arab Abab Ke-7

Islam sesungguhnya merupakan pendewaan budaya Arab abad ke-7. Dalam arti yang mendalam, Islam lebih bernuansa budaya daripada agama. itulah sebabnya semua buku teks dan ensiklopedia mengenai Islam selalu diawali dengan konteks sejarah nabi Muhammad dan pentingnya budaya Arab abad ke-7.

Islam Merupakan Budaya Arab

Sekalipun orang Jawa mempunyai budaya tersendiri (adat Jawa), namun ketika orang tersebut memeluk agama Islam, maka terjadi suatu perubahan dalam semua budaya yang dulunya dianut. misal: mereka, berbusana Arab, mendengarkan musik-musik Arab, dan makan makanan Arab. Mereka bahkan mengucapkan doa syukur atas makanan tersebut dalam bahasa Arab, walaupun kadang kala mereka sendiri tidak mengerti apa yang mereka ucapkan. mereka telah meninggalkan budaya Jawa dan mengadopsi budaya Arab. saya tidak mengatakan bahwa budaya Arab itu jelek hanya semata-mata karena itu Arab, sebaliknya saya juga tidak mengatakan bahwa budaya Jawa itu jelek semata-mata itu Jawa. Semua budaya mempunyai sisi baik dan sisi buruknya. Dalam keyataannya, adalah merupakan hal yang keliru bagi orang-orang Barat masa lalu ketika beranggapan bahwa budaya mereka perlu di sodorkan kepada bangsa-bangsa di seluruh dunia. Bila demikian halnya, maka imperialisme buda Barat akan sama ofensifnya dengan imperialisme budaya Arab.

Bahkan seorang ahli dan cendikiawan Islam seperti Dr. Ali Dsahti, mantan Menteri Luar Negeri Iran, dalam bukunya yang berjudul: "23 Year: A Study of the prophetic Carier of Muhammad", dengan cermat mencatat betapa Islam harus dipahami dalam nuansa keberadaannya yang sangat erat menyatu dengan budaya Arab abad ke-7.

Agama di Barat

Di dunia Barat, agama dipandang sebagai sesuatu hal yang bersifat amat pribadi dan perorangan, bukan bersifat agama. Misalnya: Kekristenan tidak menuntut bahwa masyarakat masa kini untuk berbusana sesuai dengan aturan berbusana abad pertama. Mereka tidak perlu jenis-jenis hidangan yang dimakan Yesus. Jadi kekristenan merupakan supra budaya yang mengijinkan masyarakat untuk hidup, berpakaian, dan makan sesuai dengan budaya setempat.

tidak demikian dengan Islam. Ketika Islam menjadi agama yang dominan di suatu negara, maka seluruh budaya asli dari negara tersebut akan diubah dan digantikan oleh budaya Arab abad ke-7.


Mitos   Ismael

Salah satu contoh rasisme Arab adalah mitos yang menyatakan bahwa orang-orang Arab adalah keturunan Abraham melalui putranya yang bernama Ismael. Mc Clintock dan Strong dalam ensiklopedia mereka yang sangat terkenal mengenai agama memberi komentar sbb:  

"Pendapat umum bahwa orang-orang Arab baik yang bersal dari Selatan maupun Utara, adalah keturunan dari Ismail; Dalam (Kej.16:12)...seringkali ditafsirkan sebagai nubuatan bagi kaum Ismail menjadi bangsa Arab dengan segala kelebihannya terhadap bangsa-bangsa lain. Tetapi perkiraan ini didasarkan pada pemahaman yang salah atas asal usul pembentukan kaum Ibrani asli. Nubuatan ini justru digenapi dengan kenyataan yang dapat disaksikan dimana keturunan Ismail bermukim terpisah lebih kearah Timur dibandingkan dengan kantong pemukiman keturunan Abraham dengan pihak Sara maupun Keturah (istri Abraham yang terakhir)".

Dengan demikian pandangan yang menyatakan bahwa keturunan Ismail itu adalah orang-orang Arab yang bermukim di bagian Selatan adalah tidak berdasar sama sekali, dan kelihatannya pandangan tersebut datang dari tradisi yang disengaja yang diciptakan oleh kebanggan Arab yang menganggap bahwa mereka, seperti halnya dengan Yahudi, adalah berasal dari benih Abraham. Kebanggaan yang kosong inilah yang menodai Islam dan memalsukan seluruh sejarah Abraham dan anaknya Ismail, dimana panggung peristiwa yang sebenarnya terjadi di Palestina telah ditransfer ke Mekkah.
Kebanyakan buku-buku referensi yang berotoritas mengenai Islam menolak klaim bahwa bangsa Arab merupakan keturunan Abraham. Encyclopedia of Islam yang sangat bergengsi mengidentifikasikan bahwa rumpun orang-orang Arab justru berasal dari bangsa  yang bukan keturunan Abraham.

Bahkan Dictionary of Islam mempertanyakan pendapat bahwa bangsa Arab adalah keturunan Ismail. ("bagimana Ismail bisa menjadi bapak bangsa Arab...? Abraham bukan orang Arab. Hagar-ibunya Ismail bukan pula orang arab, melainkan budak dari Mesir. Malahan Hagar mencarikan seorang perempuan Mesir bagi Ismail sebagai istrinya. Jadi Ismail bukan orang Arab yang dapat menurunkan bangsa Arab. Apalagi dari Hadis (terjemahan HSB 1475) ternyata Ismail justru belajar bahasa Arab dari orang-orang Arab yang telah exist sebagai suku bangsa sebelum Ismail")

lanjut...........
   















Selasa, 31 Januari 2012

ANTINOMIANISME

Definisi

Dalam bahasa Yunani antinomianisme berasal dari dua kata, yaitu: Anti yang artinya: menentang, dan Nomos yang artinya: Hukum. 
Jadi dapat disimpulkan bahwa antinomianisme adalah tindakan yang anti terhadap hukum.

Karateristik ajaran ANTINOMIANISME:
  1. Paham ini menyangkali signifikansi hukum Allah dalam kehidupan orang percaya
  2. Hukum Tuhan tidak berlaku bagi mereka yang percaya kepada Tuhan Yesus
  3. Mencampuradukkan antara pembenaran dengan kekudusan
  4. Mereka berasumsi bahwa PL merupakan suatu ikatan perjanjian Hukum, sedangkan PB merupakan suatu ikatan perjanjian anugerah
  5. Semua dosa yang diperbuat adalah dari hidupnya yang lama dan tidak kena  mengena dengan hidup yang baru dalam Yesus (hidup bebas/liar)
Alasan-alasannya:
  1. Karena Yesus telah membebaskan mereka dari hukum Allah
  2. Anugrah Allah membebaskan kita dari keharusan untuk mentaati hukum Allah.
Maksudnya bahwa anugrah Allah menjadi surat ijin untuk ketidaktaatan
    
Apologetika/ pembelaan iman Kristen:
  1. Hukum Allah bukanlah syarat untuk mencapai keselamatan, tetapi hukum Allah diperuntukkan sebagai standar nilai moralitas bagi orang percaya jika demikian adakah kami membatalkan hukum taurat karena iman. Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya” (Roma 3:31).
  2. Memang benar, bahwa kita diselamatkan bukan karena usaha kita untuk melakukan hukum Allah tetapi oleh Anugrah. Hal ini bukan berarti kita bebas dari hukum Allah. .”jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu” (Yoh.14:15)
  3. Justru semakin kita terikat Hukum Allah, maka kita semakin bebas menjalankan kehendak Allah.

FUNGSI HUKUM MENURUT MARTIN LUTHER
  1. UNTUK MENYATAKAN DOSA
  2. UNTUK MEMBENTUK MASYARAKAT YANG BERMORAL SECARA UMUM
  3. UNTUK MENYEDIAKAN PERATURAN KEHIDUPAN BAGI MEREKA YANG TELAH MENGALAMI REGENERASI MELALUI IMAN DI DALAM YESUS.
Kesimpulan
*     Antinomianisme merupakan bidat yang mengatakan bahwa orang-orang Kristen tidak mempunyai kewajiban untuk mentaati hukum Allah
*     Hukum mempunyai fungsi, yaitu untuk menyatakan dosa dan merupakan petunjuk hidup bagi orang Kristen
*      Hukum dan anugrah Allah diajarkan, baik dalam PL maupun PB
*      Meskipun ketaatan pada hukum Allah bukan usaha yang mengakibatkan kita dibenarkan, orang yang sudah dibenarkan diharapkan berjuang dengan sungguh-sungguh untuk mentaati hukum Allah.

Rabu, 11 Januari 2012

BENARKAH HANYA BAPTISAN SELAM YANG SAH…..?


Baptisan air merupakan hal yang sering diperdebatkan. Sampai saat ini banyak gerakan-gerakan yang begitu ngotot membenarkan model pembaptisan mereka. Apakah ada cara baptisan yang lebih tepat?
Memahami baptisan secara praktis memerlukan peninjauan secara praktis mengenai pengalaman-pengalaman tertentu di dalam Alkitab tentang pernyataan-pernyataan Firman Tuhan mengenai fungsi baptisan. Jika tidak maka pemahaman kita tentang baptisan akan menjadi kacau balau dan semakin membuat orang lain bingung, juga malah semakin membenarkan cara pembaptisan yang kita pakai.

DEFINISI  BAPTISAN.
  1. Pengertian Baptisan
Dalam bahasa Yunani, kata "Bapto" artinya "mencelupkan di dalam atau dibawah" atau bisa juga berarti mencelupkan bahan-bahan untuk memberi warna baru. Sedangkan "Baptizo" bisa berarti "membenamkan", "menenggelamkan" atau "membinasakan". Tetapi, baptizo juga bisa berarti "masuk dibawah" atau "dipengaruhi", dan dalam suasana Helenisme juga diartikan sebagai "mandi" atau "mencuci".

Perjanjian Lama
Dalam Perjanjian Lama, ada istilah "Baptein" dalam LXX yang dalam bahasa Indonesianya adalah "mencelupkan kakinya ke dalam air" (Yos.3:15), "mencelupkan jari ke dalam darah itu" (Im.4:6,17), "dimasukkan ke dalam air" (Im.11:32), dan Naaman "membenamkan diri" ke sungai Yordan (2Raj.5:14). (dikutip dari artikel www.yabina.org)
Dalam PL, adat basuhan menunjukkan ritual "penyucian" atau "pengudusan", dan basuhan itu bukan lambang melainkan alat pengudusan itu sendiri. Jadi air itu dianggap mempunyai kekuatan magis untuk "penyucian" sehingga seperti dalam kasus Naaman harus dilakukan sampai tujuh kali. (dikutip dari www.yabina.org)

Istilah "dimasukkan, ditenggelamkan" memang dapat memberi pengertian dari istilah baptisan. Namun hal ini telah ditafsirkan oleh beberapa gerakan-gerakan baptisan selam sebagai bukti bahwa baptisan selam ke dalam air lebih tepat, lebih benar, dan sah untuk melakukan upacara pembaptisan. Benarkah?

Hal tersebut hanyalah penafsiran yang tidak teliti akan makna ditenggelamkan atau makna dimasukkan. Apakah yang dimaksudkan dari ditenggelamkan atau dimasukkan ke dalam air adalah mutlak ke dalam air? Apakah karena makna atau pengertian kata baptisan dari kata "baptizo" yang berarti dimasukan, maka itu berarti upacara pembaptisan adalah masukkan ke dalam air?
Mari kita lihat terlebih dahulu apa pengertian baptisan berdasarkan elemen-elemen yang dipakai untuk memperoleh suatu hal yang berhubungan dengan baptisan.
  1. Makna Baptisan berhubungan dengan Elemen apa yang dipakai sesuai dengan pengertian tentang baptisan itu sendiri yang berarti dimasukkan.
  • Pengertian makna Baptisan dari baptisan Yohanes.
Yohanes Pembaptis membaptis orang-orang pada saat itu dengan menggunakan air. Berhubungan dengan pengertian baptisan yang bisa berarti dimasukkan, dimasukkan di bawah, dll,. Walaupun belum jelas apakah pengertian baptisan yang dilakukan Yohanes Pembaptis adalah menenggelamkan, atau dimasukkan ke dalam air secara utuh atau tidak. karena istilah keluar dari air bisa berarti dari "area" air. Tapi kita tidak membahas tentang hal tersebut.
Yang kita bahas adalah bahwa baptisan yang dilakukan Yohanes adalah baptisan memasukan (Baptizo) seseorang ke dalam pengalaman tanda pertobatan atau lambang pertobatan dengan menggunakan air. Apakah itu proses menenggelamkan atau mencuci bukan menjadi permasalahan baptisan Yohanes karena yang menjadi permasalahan adalah untuk apa mereka dibaptis dan menggunakan apa mereka dibaptis. Dalam hal ini Elemen baptisan yang dilakukan Yohanes adalah Air yaitu dimasukan ke dalam air atau dicuci dengan air sebagai lambang pertobatan. 

Jikalau baptisan Yohanes menggunakan cara dimasukkan ke dalam air itu pun suatu pengalaman yang memasukkan ke dalam air sebagai lambang pertobatan. sekali lagi Air hanya merupakan elemen yang dipakai Yohanes dalam melaksanakan upacara pembaptisan. Apabila pengalaman yang digunakan oleh Yohanes Pembaptis dalam membaptis menurut pengertian dimasukan ke dalam air maka kalimatnya akan menjadi seperti ini "aku (membaptis/memasukkan) kamu ke dalam Air sebagai tanda pertobatan..." (MAT.3:11) perhatikan bahwa Yohanes menggunakan air "mungkin" dengan cara dimasukkan di dalam air sebagai tanda pertobatan. Tetapi pengertiannya tetap dimasukkan ke dalam air sebagai lambang pertobatan. Namun apakah pengalaman ini yang memiliki istilah dimasukan ke dalam air adalah sama dengan perintah Tuhan Yesus kepada murid-muridnya pada saat pernyataan amanat agung -- di mana perintah baptisan berhubungan dengan pengalaman yang dilakukan oleh Yohanes yang berarti di masukan "ke dalam AIR" ???...
Hal ini akan dibahas pada poin yang terakhir karena kita akan melihat makna baptisan yang lain sesuai dengan elemen yang dipakai. Apakah sama dengan baptisan Yohanes?
  • Pengertian makna baptisan dari baptisan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus (baptisan Roh dan api)
Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu: "Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. (Lukas 3:16)
Perhatikan hal ini dengan baik. Yohanes membaptis (memasukkan) ke dalam AIR sebagai lambang pertobatan.

Bagaimana dengan baptisan Roh dan api?
Yesus Membaptis (memasukkan) seseorang ke dalam ROH bukan air. Dan istilah Api lebih mengarah kepada penyucian sehingga Yesus membaptis (memasukkan) seseorang ke dalam pengalaman penyucian yang dilambangkan dengan API.

Apakah ada perbedaan istilah baptisan yang berarti "dimasukkan ke dalam" atau "dicuci dengan" dari pengalaman Yohanes Pembaptis dengan pengalaman baptisan yang dilakukan oleh Yesus Kristus? Jawabannya tidak. Sebab baptisan Yohanes mungkin dimasukkan ke dalam Air atau dicuci dengan air. Namun Baptisan yang dilakukan oleh Yesus adalah dengan memasukan seseorang di dalam Roh bukan air. Jadi istilah baptisan Yohanes sudah berbeda jauh dengan istilah baptisan yang dilakukan oleh Yesus Kristus. Yohanes membabtis (memasukan) seseorang ke dalam air sedangkan Yesus membaptis (memasukan) seseorang ke dalam unsur Spiritualitas dan penyucian.

Bagaimana dengan baptisan yang harus dijalankan oleh orang percaya pada masa perjanjian baru? Apakah seperti pengalaman baptisan yang dilakukan Yohanes Pembaptis, di mana membaptis (memasukkan) seseorang ke dalam air, ataukah ke dalam apa... ?
  • Pengertian makna baptisan pada saat amanat Agung Yesus Kristus kepada murid-murid-Nya.
Apakah makna baptisan yang diperintahkan Yesus kepada murid-murid-Nya mengarah mutlak kepada Elemen air dan pengalaman dimasukkan ke dalam air? seperti yang dilakukan Yohanes?
"
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus" (Mat.28:19)

Jikalau Yohanes Pembaptis membaptis dengan menggunakan air yang berarti dimasukan ke dalam air sebagai lambang pertobatan, dan Yesus membaptis dengan menggunakan Roh dan Api sebagai lambang penyucian dengan cara memasukan seseorang ke dalam Roh dan dalam penyucian.

Maka, istilah yang ada di dalam Matius 28:19 menyatakan "Baptislah (memasukan) mereka ke dalam..." sangat berbeda dengan istilah pembaptisan Yohanes yaitu Membaptis (memasukkan) seseorang ke dalam air.
Jikalau Yohanes membaptis (memasukan) seseorang ke dalam air, maka perintah baptisan mengenai baptislah mereka dalam "nama Bapa dan Anak dan Roh kudus adalah membaptis (memasukkan) seseorang/mereka ke dalam~ nama Bapa dan Anak dan Roh kudus. Bukan makna ke dalam air (walaupun lebih baik menggunakan air sebagai wadah pembaptisan) tetapi Elemen pembaptisan bukanlah mengarah kepada Air melainkan kepada atau ke dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Lihat perbedaannya sangat jelas. Yohanes memasukan atau mencuci seseorang dengan menggunakan air maka Baptisan amanat agung adalah baptisan memasukkan seseorang bukan makna ke dalam air melainkan memasukkan seseorang ke dalam nama Allah Bapa dan Anak dan Roh Kudus.

Ada juga istilah baptisan yang terjadi di zaman Perjanjian Lama yang dinyatakan melalui Rasul Paulus.
"Aku mau, supaya kamu mengetahui, saudara-saudara, bahwa nenek moyang kita semua berada di bawah perlindungan awan dan bahwa mereka semua telah melintasi laut. Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut." 1 Korintus 10:1,2
Istilah membaptis dalam awan dan dalam laut. Bukan berarti mereka dibaptis atau dimasukkan ke dalam awan atau dalam laut. Ini berarti istilah baptisan tidak harus memiliki pengertian dimasukkan atau ditenggelamkan. Jika itu pengertian mutlak maka apa yang terjadi pada saat bangsa Israel sedang melintasi Laut Teberau dan langsung dimasukkan atau ditenggelamkan ke dalam laut? Saya yakin anda dapat menganalisanya.
Ini berarti istilah baptisan memunyai begitu banyak pengertian yang sangat mendalam.

Kesimpulan
  1. Baptisan air, tidak ada hubungan mutlak harus di dalam air. karena bisa di dalam air, bisa di dalam Roh bisa di dalam nama Allah Bapa dan Anak dan Roh Kudus sebagai lambang pemetraian nama Allah kepada seseorang. karena jika harus di dalam air maka apa yang terjadi dengan bangsa Israel pada saat melintasi Laut Teberau?
  2. Kenapa disebut baptisan air? Karena air dijadikan suatu wadah yang dipakai dalam upacara pembaptisan. Apakah bisa menggunakan wadah lain selain air? Jawabannya adalah wadah tidak menjadi hal yang mutlak. Air digunakan karena melambangkan Roh Kudus.
  3. Baptisan Yohanes, Baptisan yang dilakukan Yesus, dan Baptisan amanat agung (baptisan orang percaya/gereja) memiliki elemen-elemen yang berbeda.
  4. Cara pembaptisan bukanlah suatu hal yang perlu dipersoalankan; bisa dengan cara di selam, dipercik atau dengan cara yang lain. Yang terpenting dan mutlak adalah dibaptis dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus.